Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 18/11/2019, 19:05 WIB
Ellyvon Pranita,
Sri Anindiati Nursastri

Tim Redaksi

 

KOMPAS.com - Prevalensi miopi atau rabun dekat semakin meningkat di seluruh dunia. Terjadinya miopi dalam kurun waktu yang lama, jika dipengaruhi berbagai risiko, akan dapat menyebabkan komplikasi. Seperti katarak, glaukoma, retinal detachment, dan chorioretinal atrophy.

Dokter mata subspesialis lensa kontak, DR dr Tri Rahayu SpM(K) FIACLE, melakukan penelitian bersama tim dokter mata di Indonesia. Pada masyarakat urban, prevalensi miopi mencapai sekitar 52,78 persen.

Penelitian merucut di sekitar kota urban yaitu Jakarta dan Tangerang. Hasilnya, miopi pada umumnya terjadi pada anak-anak usia sekolah dengan 20,24 persen (rural) dialami anak kelas 6 SD, 35 persen murid SMP di Jakarta, 32,3 persen pada anak usia 6-15 tahun, serta 7,1-47,9 persen murid SD di Tangerang.

Sampai saat ini, penderita miopi biasanya menggunakan alat bantu yakni kacamata atau lensa kontak.

“Tapi kan anak-anak usia sekolah atau remaja itu masih banyak sekali aktivitasnya. Hobinya juga banyak. Kalau pakai alat bantu kayak kacamata gitu kan susah, mereka tidak bebas melakukan hal-hal yang mereka harus atau mau lakukan itu,” kata Tri dalam acara Ortho-K untuk koreksi mata minus dan silinder oleh JEC di Jakarta, Rabu (13/11/2019).

Baca juga: Salshabilla Adriani Nyaris Buta karena Softlens, Ini Kata Dokter Mata

Nah, karena penggunaan kacamata yang tidak fleksibel tersebut, sebagian besar orang memilih untuk menggunakan lensa kontak atau softlens.

Ironisnya, lensa kontak yang banyak digunakan bukanlah lensa kontak atas rekomendasi dokter mata. Melainkan lensa kontak sembarangan yang bisa didapatkan dengan harga murah, namun kualitasnya minim. Pemakainya memiliki risiko besar terjadi infeksi dan lain sebagainya.

dr Tri bersama timnya di Contact Lens Service di JEC memiliki metode alternatif untuk mengoreksi kelainan refraksi mata minus dan silinder tanpa bedah. Yaitu dengan lensa kontak khusus Orthokeratology atau Ortho-K.KOMPAS.COM/ELLYVON PRANITA dr Tri bersama timnya di Contact Lens Service di JEC memiliki metode alternatif untuk mengoreksi kelainan refraksi mata minus dan silinder tanpa bedah. Yaitu dengan lensa kontak khusus Orthokeratology atau Ortho-K.

Lensa kontak khusus miopi

dr Tri menyebutkan, untuk menekan atau mengurangi miopi yang terjadi dibutuhkan operasi bedah mata untuk mengoreksi kelainan refraksi mata minus.

Namun, Tri bersama timnya di Contact Lens Service di JEC memiliki metode alternatif untuk mengoreksi kelainan refraksi mata minus dan silinder tanpa bedah. Yaitu dengan lensa kontak khusus Orthokeratology atau Ortho-K.

“Metode Ortho-K dapat menjadi alternatif untuk koreksi kelainan refraksi mata minus atau silinder bagi penderita yang ingin bebas dari pemakaian kacamata namun tidak memenuhi persyaratan untuk tindakan lasik. Atau khawatir dengan efek penggunaan softlens di pasaran,” ujar Tri.

Ortho-K adalah sebuah prosedur penggunaan lensa kontak yang didesain khusus untuk mengoreksi dan menghambat penambahan minus pada mata penggunanya.

Metode Ortho-K

Berbeda dengan lensa kontak pada umumnya yang berbahaya jika dipakai saat tidur, Ortho-K justru akan bekerja maksimal pada saat mata terpejam atau dalam keadaan tertidur sepanjang malam.

Lensa Ortho-K bekerja untuk mendatarkan permukaan kornea sehingga ketika dilepaskan saat bangun tidur, pasien dapat melihat dengan jelas dan dapat beraktivitas tanpa bantuan kacamata sepanjang hari.

“Kenapa ini aman (digunakan) untuk tidur? Karena bahan lensa kontak Ortho-K ini yaitu hyper-oxygen transmissibility dan high durability, sehingga memungkinkan kornea mata tetap mendapatkan asupan oksigen yang baik saat tidur,” ujarnya.

Baca juga: Pria Inggris Jadi Buta karena Pakai Lensa Kontak Saat Mandi, Kok Bisa?

Namun metode ini hanya akan mampu menangani penderita kelainan refraktif hingga minus 6 dan silinder 2,50. Metode ini juga aman untuk pengguna yang memiliki alergi, serta bersifat kontemporer dalam menekan angka minus atau silinder tersebut.

“Jadi kalau minusnya 10, Ortho-K hanya akan mampu menekan minusnya hingga tersisa menjadi minus empat. Tetapi kalau minusnya kurang dari enam, bahkan ini akan bekerja dengan lebih cepat dan tidak butuh waktu lama menggunakannya,” kata dia.

Pemakaian Ortho-K akan bergantung pada besaran minus yang diderita pasien. Semakin kecil minus yang diderita pasien maka penggunaan lensa kotak Ortho-K khusus malam hari juga tidak diperlukan dipakai setiap malam.

Begitupun sebaliknya, semakin besar minus yang diderita, intensitas penggunaan Ortho-K malam hari juga akan lebih sering. Ortho-K bisa bertahan selama empat hingga lima tahun, dengan pembersihan lensa kotak tersebut paling tidak dua bulan sekali.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
28th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengatasi Polusi Udara Dengan Teknologi Plasma

Mengatasi Polusi Udara Dengan Teknologi Plasma

Fenomena
Bagaimana Seharusnya Sampah Dipilah?

Bagaimana Seharusnya Sampah Dipilah?

Kita
Bagaimana Terumbu Karang Terbentuk?

Bagaimana Terumbu Karang Terbentuk?

Oh Begitu
Apa Itu BPA dan Dampaknya bagi Kesehatan?

Apa Itu BPA dan Dampaknya bagi Kesehatan?

Oh Begitu
Apakah Ikan Air Tawar Terbesar di Dunia?

Apakah Ikan Air Tawar Terbesar di Dunia?

Fenomena
Apa Saja Dampak Siklon Tropis terhadap Wilayah Indonesia?

Apa Saja Dampak Siklon Tropis terhadap Wilayah Indonesia?

Fenomena
Fakta-fakta Menarik Kentut, Soda Bikin Lebih Sering Kentut (Bagian 2)

Fakta-fakta Menarik Kentut, Soda Bikin Lebih Sering Kentut (Bagian 2)

Oh Begitu
Seberapa Akurat Ingatan Masa Kecil Kita?

Seberapa Akurat Ingatan Masa Kecil Kita?

Kita
Seperti Apa Gejala Virus Nipah yang Parah?

Seperti Apa Gejala Virus Nipah yang Parah?

Oh Begitu
Seperti Apa Hiu Tertua yang Berusia Ratusan Tahun?

Seperti Apa Hiu Tertua yang Berusia Ratusan Tahun?

Oh Begitu
Apakah Ikan Air Asin Bisa Hidup di Air Tawar?

Apakah Ikan Air Asin Bisa Hidup di Air Tawar?

Oh Begitu
8 Cara Menjaga Kesehatan Saat Cuaca Panas Ekstrem

8 Cara Menjaga Kesehatan Saat Cuaca Panas Ekstrem

Oh Begitu
Apa Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia?

Apa Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia?

Oh Begitu
Mengapa Tidak Ada Narwhal di Penangkaran?

Mengapa Tidak Ada Narwhal di Penangkaran?

Oh Begitu
Bagaimana Wortel Bisa Berwarna Oranye?

Bagaimana Wortel Bisa Berwarna Oranye?

Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com