Hamil Bayi Kembar Berisiko Lahir Prematur, Seperti yang Dialami Cynthia Lamusu

Kompas.com - 17/11/2019, 19:06 WIB
Ilustrasi bayi kembar. SHUTTERSTOCKIlustrasi bayi kembar.

KOMPAS.com - Memiliki anak kembar kerap menjadi dambaan banyak pasangan. Namun bukan berarti bayi kembar tidak memiliki risiko besar.

Hal itu dialami oleh salah satu figur publik Indonesia, Cynthia Lamusu. Ia terpaksa melahirkan bayi kembarnya secara prematur pada 20 November 2016. Hal itu dikisahkan Cynthia dalam acara bertajuk "Upaya Pencegahan dan Tatalaksana Anak Prematur Agar Tumbuh Kembang Optimal".

"Saya dari awal sudah diingatkan dokter, kehamilan kembar itu risikonya lebih tinggi dari kehamilan normal, termasuk juga risiko melahirkan prematur," kata Cynthia di Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Bayi kembar itu dikandungnya lewat In Vitro Fertilization (bayi tabung) usai berumah tangga dengan Surya Saputra selama 8 tahun. Cynthia mengandung bayi kembar pada usia 36 tahun.

Menurut medis, wanita yang hamil pertama di atas usia 35 tahun memang memiliki berbagai risiko kandungan. Hamil bayi kembar dua atau lebih juga berisiko pada ibu yang mengandung, juga bayi yang dikandung.

Cynthia Lamusu bersama suaminya aktor Surya Saputra dan kedua buah hatinya, Tatjana dan Bima.Instagram/ Cynthia Lamusu Cynthia Lamusu bersama suaminya aktor Surya Saputra dan kedua buah hatinya, Tatjana dan Bima.

Cynthia berkisah pada trimester pertama dan kedua, ia menjalani kehamilan dengan baik dan tidak memiliki kendala apapun. Namun memasuki trisemester ketiga, terjadi berbagai perubahan tubuh dan gejala-gejala yang abnormal.

Memasuki trisemester ketiga, tubuhnya mulai membengkak pada beberapa bagian tubuh terutama bagian kaki, disertai naiknya tekanan darahnya dari 120/100 pada trisemester kedua. Bahkan mencapai 140/100 pada awal trisemester ketiga.

"Tekanan darah saya waktu itu bahkan mencapai 170/100, jadi kata dokter saya harus melahirkan sesegera mungkin. Meskipun prediksi kelahiran saya masih satu bulan lebih lagi atau bisa dibilang mereka lahir preterm (prematur)," ujarnya.

Baca juga: Wanita 74 Tahun Melahirkan Bayi Kembar, Kok Bisa?

Hal itu juga, kata Cynthia, dokter memberitahukan bahwa Cynthia mengalami preeklamsia dan miom saat kehamilan.

Preeklamsia adalah sebuah komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan tanda-tanda kerusakan organ. Misalnya kerusakan ginjal yang ditunjukkan oleh tingginya kadar protein pada urine (proteinuria).

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X