Kompas.com - 31/10/2019, 12:06 WIB
Ilustrasi makanan sehat ShutterstockIlustrasi makanan sehat

KOMPAS.com - Sebuah penelitian terbaru menunjukkan hubungan makanan dengan lingkungan. Rupanya, Anda akan mendapatkan manfaat ganda jika memakan makanan yang berbasis tumbuh-tumbuhan.

Dilansir dari The Guardian, Senin (28/10/2019), penelitian terbaru menunjukkan bahwa makan makanan sehat merupakan pilihan terbaik untuk manusia dan lingkungan.

Sebaliknya, memakan makanan yang tidak sehat akan menjadi ancaman untuk diri Anda sendiri serta lingkungan. Oleh karena itu, beberapa negara-negara maju melakukan kampanye untuk mengurangi konsumsi daging.

Efek dari makan makanan yang tidak sehat, selain meningkatnya risiko penyakit diabetes, jantung koroner, dan kolesterol; juga merusak iklim dan lingkungan.

Baca juga: Kata Ahli Gizi, Ini Cara Memasak Mi Instan agar Lebih Sehat

Dari semua jenis makanan, penelitian menemukan bahwa buah-buahan, sayur-sayuran, kacang-kacangan dan biji-bijian adalah pilihan terbaik untuk menghindari penyakit dan melindungi iklim serta sumber daya air. Sebaliknya, pola diet yang banyak daging merah dan olahan dapat menyebabkan masalah kesehatan dan polusi paling parah.

Meski demikian, memang ada beberapa makanan yang tidak mengikuti "tren" ini.

Ikan, misalnya, merupakan protein hewani sehat yang memiliki banyak vitamin namun meninggalkan jejak karbon yang lebih banyak daripada pola makan berbasis tanaman. Sementara itu, makan-makanan yang mengandung tinggi gula, seperti biskuit dan minuman bersoda, berdampak rendah pada lingkungan namun meningkatkan risiko kesehatan.

Dipublikasikan oleh Michael Clark bersama dengan timnya dalam Proceedings of the National Academy of Sciences; para ahli mendapatkan hasil ini setelah menganalisis dampak kesehatan dan lingkungan dari 15 jenis makanan yang paling umum dalam pola makan barat.

Baca juga: Sains Diet, Bagaimana Memenuhi Kebutuhan Protein kalau Vegetarian?

Mereka juga menggunakan data dari studi lain yang mempelajari dampak kesehatan, seperti risiko jantung, stroke, diabetes tipe dua dan kanker usus, dari memakan ke-15 jenis makanan satu porsi lebih banyak dari yang direkomendasikan.

Sementara itu, dampak lingkungannya, termasuk emisi gas rumah kaca dan penggunaan air, dikalkulasikan dan dibandingkan dengan seporsi sayuran.

Menurut Clark, pola makan yang biasa digunakan oleh masyarakat mengancam kesehatan, lingkungan, serta sumber daya air.

“Memilih makanan yang lebih baik dan sifatnya berkelanjutan merupakan jalan terbaik untuk orang-orang meningkatkan kesehatan dan membantu melindungi bumi,” ujar Clark.

Saat ini, para peneliti sedang mengerjakan model label makanan baru untuk mengetahui informasi atau dampak kesehatan dan lingkungan dari setiap sajinya.

Melalui penelitian ini; konsumen, pembuat kebijakan dan perusahaan makanan diharapkan dapat membuat pilihan yang lebih baik.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Libur Lebaran Waspada Hujan Lebat Dampak Cuaca Ekstrem, Ini Daftar Wilayahnya

Libur Lebaran Waspada Hujan Lebat Dampak Cuaca Ekstrem, Ini Daftar Wilayahnya

Fenomena
Penyebab Tekanan Darah Tinggi yang Perlu Anda Waspadai

Penyebab Tekanan Darah Tinggi yang Perlu Anda Waspadai

Kita
4 Makanan yang Harus Dihindari Saat Idul Fitri, demi Cegah Penyakit dan Kenaikan Berat Badan

4 Makanan yang Harus Dihindari Saat Idul Fitri, demi Cegah Penyakit dan Kenaikan Berat Badan

Oh Begitu
Dokter India Peringatkan Bahaya Mandi Kotoran Sapi untuk Cegah Corona

Dokter India Peringatkan Bahaya Mandi Kotoran Sapi untuk Cegah Corona

Kita
Covid-19 di India Membuat Banyak Jenazah Penuhi Tepi Sungai Gangga

Covid-19 di India Membuat Banyak Jenazah Penuhi Tepi Sungai Gangga

Fenomena
3 Tanaman Begonia Baru Endemik Sulawesi, Ada yang Spesies Langka di Asia

3 Tanaman Begonia Baru Endemik Sulawesi, Ada yang Spesies Langka di Asia

Fenomena
Hasil Riset: Sejak 1960, Manusia Ubah Daratan Seluas Eropa-Afrika

Hasil Riset: Sejak 1960, Manusia Ubah Daratan Seluas Eropa-Afrika

Oh Begitu
Daftar Herbal untuk Kolesterol, Cara Alami Turunkan Kolesterol

Daftar Herbal untuk Kolesterol, Cara Alami Turunkan Kolesterol

Oh Begitu
Kasus Covid-19 Harian Melonjak, WHO Peringatkan Bahaya Varian India

Kasus Covid-19 Harian Melonjak, WHO Peringatkan Bahaya Varian India

Oh Begitu
WHO: Tren Kasus Harian Covid-19 di Dunia Stagnan, tetapi Beberapa Negara Naik

WHO: Tren Kasus Harian Covid-19 di Dunia Stagnan, tetapi Beberapa Negara Naik

Oh Begitu
Efek Kebanyakan Minum Kopi dan Berapa Batas Aman Minum Kopi

Efek Kebanyakan Minum Kopi dan Berapa Batas Aman Minum Kopi

Oh Begitu
[POPULER SAINS] 1 Syawal 1442 H Jatuh Besok Kamis | Alasan Idul Fitri Tahun Ini Bertepatan dengan Kenaikan Isa Almasih

[POPULER SAINS] 1 Syawal 1442 H Jatuh Besok Kamis | Alasan Idul Fitri Tahun Ini Bertepatan dengan Kenaikan Isa Almasih

Oh Begitu
7 Herbal untuk Asam Lambung, Ada Bunga Kantil

7 Herbal untuk Asam Lambung, Ada Bunga Kantil

Oh Begitu
Tumbuh Kembang Anak Kembar, Studi Ungkap Lebih Lambat Bicara

Tumbuh Kembang Anak Kembar, Studi Ungkap Lebih Lambat Bicara

Oh Begitu
Hasil Sidang Isbat Idul Fitri: 1 Syawal 1442 H Jatuh pada Kamis, 13 Mei 2021

Hasil Sidang Isbat Idul Fitri: 1 Syawal 1442 H Jatuh pada Kamis, 13 Mei 2021

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X