Kemenkes: 2 Hal Terkait Cuaca Panas yang Harus Diperhatikan

Kompas.com - 27/10/2019, 12:05 WIB
Ilustrasi nyamuk. Ilustrasi nyamuk.

KOMPAS.com - Pada cuaca panas yang terjadi akhir-akhir ini, banyak hal yang harus diperhatikan terutama yang berkaitan dengan kesehatan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, dr Achmad Yurianto, bahwa ada dua hal yang harus warga perhatikan dari perubahan cuaca dan panas.

Pertama, pada kondisi tertentu seperti musim pancaroba saat ini, populasi nyamuk pada umumnya akan meningkat.

Pernyataan ini diakui Achmad dikatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan bersama  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Pada kondisi tertentu, kelembaban tertentu, atau saat perubahan musim atau pancaroba begini, kondisi nyamuk meningkat. Jika nyamuk meningkat, angka penyakit juga bisa meningkat,” kata Achmad di Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jumat (25/10/2019).

Baca juga: Suhu Panas di Berbagai Wilayah Indonesia, Ini 3 Faktor Penyebabnya

Penyakit yang paling utama kemungkinan meningkat ialah Demam Berdarah Dengue (DBD).

Hal kedua yang harus diperhatikan, risiko tubuh diserang oleh berbagai penyakit juga sangat mungkin terjadi.

Beberapa faktor risiko penyebab penyakit, disebutkan oleh Achmad, yaitu panasnya suhu yang dapat membuat seseorang mudah dehidrasi dan kulit kering. Panas yang disertai angin akan membawa debu yang lebih banyak pada cuaca panas.

"Bukan cuma panasnya yang jadi masalah, angin juga banyak, nah partikel debu akan dibawa ke mana-mana. Ini akan memicu alergi, iritasi, ISPA dan masih banyak lagi terutama penyakit pernafasan," tuturnya.

Baca juga: Cuaca Panas Masih 9 Hari, Ini Daftar Hari Terpanas di Indonesia

Diakui Achmad, cuaca panas yang terjadi saat ini telah menunjukkan peningkatan yang juga terjadi pada beberapa penyakit yang terpengaruh dari debu dan panas matahari yang terik. 

Sementara untuk dehidrasi, jika seseorang mengalami kondisi tersebut, maka ada potensi untuk mengakibatkan penyakit lainnya.

Pada kondisi ringan, hal itu akan mengalami mudah lelah dan mengantuk. Hingga pada kondisi berat akan mengalami gangguan ginjal dan stroke.

"Kinerja ginjal jadi terganggu karena kurang air. Inilah yang jadi penyebab awal gagal ginjal. Juga pada stroke itu tidak tiba-tiba terjadi, itu terjadi karena mengalami dehidrasi, dehidrasi berat berpengaruh pada otak dan berpotensi mengalami stroke," ucap dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X