Orang Pertama yang Berjalan di Luar Angkasa Meninggal Dunia

Kompas.com - 13/10/2019, 19:06 WIB
Alexei Leonov, kosmonot Rusia yang meninggal pada usia 85 tahun. BEN PRUCHNIE/GETTY IMAGESAlexei Leonov, kosmonot Rusia yang meninggal pada usia 85 tahun.

KOMPAS.com – Alexei Leonov adalah orang pertama yang berjalan di luar angkasa. Kosmonot asal Rusia ini menorehkan sejarah tersebut pada 1965.

Pada waktu itu Alexei keluar dari pesawat luar angkasa dan melangkah ke luar pesawat selama 12 menit. Misi tersebut hampir saja berakhir tragis, karena pakaian khususnya menggelembung sehingga Alexei hampir tidak bisa masuk lagi ke dalam pesawat.

“Anda tidak bisa membayangkan itu. Hanya di luar angkasa sana Anda bisa melihat kemegahan dan besarnya tata surya yang mengelilingi kita,” tuturnya suatu kali.

Baca juga: Kisah Tegang Di Balik Sejarah Kosmonot Pertama yang Lakukan Spacewalk

Mengutip The Independent, Minggu (13/10/2019), Alexei meninggal dunia pada usia 85 tahun akibat sakit berkepanjangan. Ia akan dimakamkan pada bulan ini.

Selain menjadi orang pertama yang berjalan di luar angkasa, Alexei juga memimpin misi Soyuz-Apollo, yang 10 tahun kemudian menjadi misi luar angkasa pertama Rusia dan Amerika Serikat.

Alexei juga seharusnya menjadi orang Rusia pertama yang mendarat di luar angkasa. Namun sayangnya misi tersebut harus dibatalkan.

Pada masa tuanya, Alexei menjadi seorang penulis buku. Ia menulis beberapa buku sains dan biografi. Ia juga merupakan seorang pelukis, ada ratusan lukisan yang telah ia buat. Beberapa lukisan menjadi gambar kartu pos Rusia.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
Studi: Virus Mencuri Kode Genetis Manusia, Ciptakan Gen Campuran Baru

Studi: Virus Mencuri Kode Genetis Manusia, Ciptakan Gen Campuran Baru

Oh Begitu
Es Berwarna Pink Muncul di Pegunungan Alpen, Fenomena Apa Itu?

Es Berwarna Pink Muncul di Pegunungan Alpen, Fenomena Apa Itu?

Oh Begitu
Sebagian Indonesia Lebih Dingin Bukan karena Aphelion, tapi Pola Angin

Sebagian Indonesia Lebih Dingin Bukan karena Aphelion, tapi Pola Angin

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X