Ahli: Sinisnya Warganet ke Wiranto Mirip Arteria Dahlan vs Emil Salim

Kompas.com - 11/10/2019, 20:55 WIB
Menko Polhukam Wiranto memberikan keterangan pers terkait kondisi terkini Papua di Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (2/9/2019). Menko Polhukam Wiranto menyatakan aktivitas di Papua dan Papua Barat sudah mulai berangsur normal kembali, tapi akses internet masih tetap dibatasi oleh pemerintah dan akan segera dibuka kembali saat kondisi sudah kondusif. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww. Hafidz Mubarak AMenko Polhukam Wiranto memberikan keterangan pers terkait kondisi terkini Papua di Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (2/9/2019). Menko Polhukam Wiranto menyatakan aktivitas di Papua dan Papua Barat sudah mulai berangsur normal kembali, tapi akses internet masih tetap dibatasi oleh pemerintah dan akan segera dibuka kembali saat kondisi sudah kondusif. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.

KOMPAS.com - Kabar penyerangan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto, kemarin siang (10/10/2019) ditanggapi ironis oleh sebagian warganet.

Alih-alih prihatin, warganet justru merasa "senang" ketika Wiranto mengalami musibah.

Dalam artikel sebelumnya, guru besar psikologi Prof. Koentjoro mengatakan, reaksi warganet yang bersukacita itu merupakan sebab akibat dari peristiwa-peristiwa sebelumnya.

Koentjoro berkata, kebencian dan kekecewaan dari peristiwa politik di masa lalu melahirkan rasa bahagia ketika orang yang dibenci tersebut mengalami musibah seperti yang dialami Wiranto.

Meski ada hubungan sebab akibat dengan peristiwa sebelumnya, Prof Koentjoro menyayangkan reaksi warganet. Dia menuturkan, fenomena ini mirip dengan apa yang dilakukan Arteria Dahlan ke Emil Salim.

Baca juga: Menurut Guru Besar UGM, Ada Echo Chambering dalam Sinisnya Warganet pada Wiranto

Dia mengatakan, perilaku warganet yang senang Wiranto mendapat musibah tidak sesuai dengan nilai-nilai dalam Pancasila, terutama sila kedua.

"Kalau menurut saya ini buruk. Kalau berdasarkan Pancasila sila kedua bunyinya 'Kemanusian yang adil dan beradab'. Nah, kata-kata beradabnya enggak ada," ujar Koentjoro dihubungi Kompas.com, Jumat (11/10/2019).

"Karena itu, kita perlu kesadaran politik. Yang namanya politik pada dasarnya baik. Namun yang terjadi di lapangan, dalam suatu politik ada kelompok politik yang mendapat banyak dukungan, ada juga yang sedikit," imbuhnya.

"Jangan sampai yang baik ini (politik) karena kalah dukungan, kemudian menjadi sentimen pribadi yang menjelek-jelekan orangnya".

Menurut Koentjoro, persoalan yang terjadi dalam sinisnya warganet pada penyerangan Koentjoro adalah soal pemahaman politik masyarakat yang kurang.

Untuk menangani hal ini, menurut Koentjoro sudah saatnya pemahaman politik benar-benar sampai ke sistem pemerintahan paling kecil, yakni desa-desa.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X