Anak Nonton Wiranto Diserang, Psikolog Sarankan Orangtua Tanya Hal Ini

Kompas.com - 11/10/2019, 08:03 WIB
Lokasi penusukan Menko Polhukam Wiranto di Alun-alun Menes, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019). Wiranto menderita luka dua tusukan di bagian perut dan polisi mengamankan dua tersangka suami istri Syahril dan Fitri Andriana yang diduga terpapar jaringan ISIS. KOMPAS.com/ACEP NAZMUDINLokasi penusukan Menko Polhukam Wiranto di Alun-alun Menes, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019). Wiranto menderita luka dua tusukan di bagian perut dan polisi mengamankan dua tersangka suami istri Syahril dan Fitri Andriana yang diduga terpapar jaringan ISIS.

KOMPAS.com - Foto dan video penyerangan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko polhukam) Wiranto pada Kamis siang (10/10/2019) tersebar di internet.

Dalam rekaman amatir tersebut, tampak keberadaan anak-anak usia sekolah di lokasi kejadian ikut menyaksikan tragedi tersebut.

Bukannya menjauh dari kerumunan, beberapa anak justru mendekati sumber keributan.

Namun, apakah anak yang menyaksikan kejadian kekerasan dapat mengalami trauma di masa yang akan datang dan bagaimana mengatasi hal tersebut?

Baca juga: Wiranto Ditusuk, Bagaimana Pertolongan Pertama bila Ditusuk?

Menjawab pertanyaan ini, Kompas.com menghubungi psikolog anak dari Pion Clinician, Astrid W.E.N.

Menurut Astrid, dampak psikologis pada anak yang menyaksikan kejadian kekerasan secara langsung dan mendadak akan berbeda.

"Kita tidak benar-benar tahu apa yang dialami anak tersebut, hingga kita melakukan pemeriksaan psikologis dan pendampingan psikologis terhadap anak-anak yang menyaksikan kejadian itu," kata Astrid, Kamis (10/10/2019).

Cek kondisi dengan pertanyaan

Untuk mengetahui kondisi psikologis anak yang menjadi saksi mata tindak kekerasan, Astrid mengatakan, orangtua atau orang dewasa bisa memberi pertanyaan-pertanyaan terbuka.

"Saat dia (anak) datang (menghampiri orangtua), kita bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan terbuka kepadanya. Kita mencari tahu cerita dari sudut pandangnya, bagaimana kondisi emosinya, dan pikirannya. Diskusi-diskusi dimulai dari cerita yang diketahui anak" ujar dia.

Astrid pun memberikan bebera contoh pertanyaan agar cerita anak mengalir, dan apa maknanya secara psikologis.

1. Apa yang kamu lihat tadi?

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X