Kompas.com - 16/09/2019, 17:04 WIB
Kabut asap karhutla masih pekat menyelimuti wilayah Kota Pekanbaru, Riau, Minggu (15/9/2019). KOMPAS.COM/IDONKabut asap karhutla masih pekat menyelimuti wilayah Kota Pekanbaru, Riau, Minggu (15/9/2019).

KOMPAS.com - Dengan gejolak kabut asap yang melanda beberapa wilayah di Indonesia, Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) merilis analisis dan prediksi dinamika atmosfer per 10 hari (Dasarian) selama September dan Oktober 2019.

Dasarian merupakan satuan waktu meteorologi yang lamanya adalah sepuluh hari. Dengan kata lain, pembagian lama prakiraan dalam hitungan per 10 hari dalam satu bulan.

Mekanisme yang terjadi ialah aliran massa udara di wilayah Indonesia didominasi angin timuran. Massa udara berasal dari Benua Australia, kecuali Sumatera bagian utara, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian utara, Maluku Utara dan Papua Barat.

Monsun Asia tidak aktif dan diprediksi berada pada kisaran kondisi klimatologisnya hingga dasarian III September 2019, sementara Monsun Australia aktif dan diprediksi menguat hingga dasarian III September 2019.

Baca juga: Kabut Asap Riau, Masker N95 Bisa Melindungi asal Pakainya Benar

Analisis tanggal 9 September 2019 oleh BMKG menunjukkan, Madden Julian Oscillation (MJO) aktif di benua maritim (Fase 5) dan diprediksi menuju tidak aktif hingga awal dasarian III atau 10 hari terakhir di bulan September 2019.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

MJO itu sendiri ialah sebuah pola khatulistiwa anomali curah hujan yang dalam skala planet. Sementara, OLR O (Longwave Radiation) merupakan salah satu indikator yang digunakan memantau fase MJO tersebut.

Berdasarkan peta prediksi spasial anomali OLR pada awal dasarian II (10 hari tengah) bulan September 2019 wilayah Indonesia umumnya normal, pada dasarian II September 2019 terdapat daerah subsiden di wilayah Papua.

Perkiraan Dasarian September II - Oktober I 2019

Pada per 10 hari pertama dan ketiga di bulan September (September II - September III), diperkirakan curah hujan berada di kriteria rendah (sudah berlalu).

Pada per 10 hari pertama di bulan Oktober (Oktober I), umumnya diprakirakan curah hujan berada di kriteria menengah (50-150 mm/dasarian). Mencakupi wilayah umumnya seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur bagian timur.

Pada September III - Oktober I, wilayah yang diprakirakan mengalami hujan di kategori tinggi berada di Aceh bagian barat, Sumut bagian utara, dan Papua bagian tengah.

Peluang Curah Hujan Kurang dari 50 mm 

Pada September II terjadi di Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan kecuali Kalimantan Utara, Sulawesi, Maluku, Malut, Papua Barat bagian barat dan selatan, dan Papua bagian selatan.

Pada September III-Oktober I terjadi di Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah bag selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur bagian timur, Sulawesi bagian Selatan dan Papua bagian selatan.

Analisis Perkembangan Musim Kemarau Dasarian I September 2019, berdasarkan jumlah zom dan luasannya, 100 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Orbit Bumi Berfluktuasi yang Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Orbit Bumi Berfluktuasi yang Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Fenomena
[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

Oh Begitu
5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

Oh Begitu
Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Fenomena
4 Tahapan Siklus Menstruasi

4 Tahapan Siklus Menstruasi

Kita
Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Fenomena
Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Oh Begitu
Terkubur 1.700 Tahun, Vila Romawi Ditemukan di Lahan Pertanian Inggris

Terkubur 1.700 Tahun, Vila Romawi Ditemukan di Lahan Pertanian Inggris

Oh Begitu
Fakta-fakta Kelinci Laut, Siput Tanpa Cangkang yang Mirip Kelinci

Fakta-fakta Kelinci Laut, Siput Tanpa Cangkang yang Mirip Kelinci

Oh Begitu
Perbandingan Varian Omicron dengan Varian Delta, Ahli: Belum Tentu Lebih Berbahaya

Perbandingan Varian Omicron dengan Varian Delta, Ahli: Belum Tentu Lebih Berbahaya

Oh Begitu
Cara Melihat Komet Leonard Sepanjang Desember 2021 Ini

Cara Melihat Komet Leonard Sepanjang Desember 2021 Ini

Fenomena
Misteri Varian Omicron Butuh Waktu Berminggu-minggu untuk Dipecahkan

Misteri Varian Omicron Butuh Waktu Berminggu-minggu untuk Dipecahkan

Oh Begitu
Menurut Sains, Ini 5 Alasan Tidur yang Cukup Penting untuk Diet

Menurut Sains, Ini 5 Alasan Tidur yang Cukup Penting untuk Diet

Oh Begitu
Arti Kata Omicron, Alfabet Yunani yang Jadi Nama Varian Baru Covid-19

Arti Kata Omicron, Alfabet Yunani yang Jadi Nama Varian Baru Covid-19

Oh Begitu
Update Siklon Tropis Nyatoh, Akan Bergerak ke Utara dan Masih Berdampak ke Indonesia

Update Siklon Tropis Nyatoh, Akan Bergerak ke Utara dan Masih Berdampak ke Indonesia

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.