Stigma Kusta Sepanjang Masa

Kompas.com - 10/09/2019, 19:04 WIB
Juleha (34), eks penderita penyakit kusta menunjukkan kaki palsunya yang sudah rusak di Kampung Sitanala, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Selasa (20/8/2019). Di kampung yang berada di belakang RS dr. Sitanala ini dihuni sekitar 1000 eks penderita kusta dan keluarganya. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOJuleha (34), eks penderita penyakit kusta menunjukkan kaki palsunya yang sudah rusak di Kampung Sitanala, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Selasa (20/8/2019). Di kampung yang berada di belakang RS dr. Sitanala ini dihuni sekitar 1000 eks penderita kusta dan keluarganya.

STIGMA. Seperti banyak penyakit yang dianggap mengerikan, kusta tak terlepas dari satu kata ini.

Terlebih lagi, kusta memang salah satu penyakit menular yang tak banyak diketahui. Badan Kesehatan Dunia (WHO) sampai menyebutnya penyakit menular yang terabaikan.

Jumlah penderita, meski tidak bombastis, tetaplah angka yang banyak. Di Indonesia, jumlahnya paling tidak 15.000 penderita, itu pun data per akhir 2017. 

Baca juga: Ada Kusta di Antara Kita...

Angka penderita ini bisa jadi adalah puncak gunung es, mengingat banyaknya gejala kusta yang terlewat karena menyaru dengan penampakan penyakit lain.

Saat ini, jumlah penderita kusta di Indonesia adalah ketiga terbanyak di dunia, setelah India dan Brasil. 

Padahal, ada lebih banyak mitos daripada fakta yang berkembang di masyarakat atas penyakit bernama lain lepra dan Morbus Hansen ini.

Baca juga: 4 Mitos Kusta yang Salah Kaprah, Jangan Lagi Dipercaya

Lebih banyak ketidaktahuan, bahkan di kalangan medis, menaungi kusta. Sudah begitu, kusta yang terlambat apalagi tidak diobati dengan tepat akan memunculkan kecacatan fisik.

Ciri dan gejala kusta pun kerap menyaru dengan beragam gejala penyakit lain. 

Baca juga: Waspada Gejala Kusta Sebelum Alami Cacat Tubuh Permanen

Menjadi persoalan adalah saat penderita dan mantan penderita kemudian mengalami diskriminasi akibat mitos dan stigma yang bersilang sengkarut.

Padahal, memutus persoalan kusta tak hanya soal pengenalan sedini mungkin gejala dan pengobatan tuntas.

Memastikan para penderita dan mantan penderita kusta berdaya, juga seharusnya menjadi satu paket upaya untuk menghapus atau setidaknya meminimalkan kasus baru penyakit ini.

Baca juga: JEO-Penyakit Tertua di Dunia dengan Gejala seperti Panu, Itulah Kusta

Kusta yang umumnya dipicu oleh bakteri Mycobacterium leprae ini sejatinya bisa dikalahkan oleh daya tahan tubuh yang bagus. Terutama, untuk kusta tipe kering.

Artinya, gizi adalah faktor krusial terkait eliminasi penyakit ini. Agar siapa pun dapat terpenuhi kebutuhan gizi, syarat pertama tentu saja kesempatan untuk berdaya tanpa diskriminasi.

Baca juga: Perjuangan Hidup Abdul Wahab, Tak Patah karena Kusta

Persoalan stigma terkait kusta ini, saksikan tayangan "Stigma Kusta Tak Berkesudahan" dalam program Berkas Kompas di Kompas TV, Selasa (10/9/2019) pukul 22.00 WIB.

Peliputan terkait kusta ini merupakan garapan bersama harian Kompas, Kompas.com, Kompas TV, dan Kontan. Di Kompas.com, peliputan ini dapat disimak dalam liputan khusus Ada Kusta di Antara Kita.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X