Kompas.com - 05/09/2019, 09:55 WIB

"Kegiatan yang terlihat pada foto-foto itu sangat sejalan dengan letusan gunung berapi laut dan ini yang menyebabkan hilang puncak gunung itu," kata Dr. Williams.

"Beberapa minggu kemudian, gunung berapi ini membentuk diri kembali, dan air kemudian berhenti masuk ke sistem magma dan Anak Krakatau 'kembali normal'.

"Kami mengkaji literatur lama dan menemukan bukti bahwa lorong berpindah ke belakang dan ke depan. Inilah yang terjadi pada Anak Krakatau sepanjang sejarah."

Dr. Williams mengakui bahwa kebanyakan model tsunami yang ada saat ini tidak dapat mereproduksi kejadian tanggal 22 Desember dengan menggunakan pergerakan volume seberat 0,1 km3, meskipun ada simulasi yang dilakukan satu tim di Prancis dengan menggunakan volume seberat 0,15 km3.

"Saya meragukannya. Model yang ada saat ini meremehkan kemampuan longsoran gunung berapi untuk memicu tsunami yang lebih besar," katanya.

Diperkirakan ada sekitar 40 gunung berapi di dunia yang dekat dengan permukaan air dan dapat menimbulkan bencana mirip dengan Anak Krakatau.

Tim Dr Williams menerbitkan kajian ini pada jurnal Geology.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.