Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tersambar Petir, dari Pencegahan, Cederanya hingga Penanganannya

Kompas.com - 22/08/2019, 18:07 WIB
Shierine Wangsa Wibawa

Penulis

KOMPAS.com – Cedera akibat petir tidak selalu terjadi karena petir menyambar langsung dari langit ke manusia.

Selain sambaran langsung, seseorang tetap bisa cedera akibat petir bila menyentuh objek yang tersambar langsung, terpercik ketika petir melompat dari objek yang lebih tinggi ke korban, berada dalam radius aliran listrik ketika petir menyambar tanah, terlempar ketika udara dengan cepat menjadi panas dan dingin akibat sambar petir dan lain-lain.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengikuti tips-tips yang telah dilansir dari eMedicine Health di bawah ini dalam mencegah dan menangani cedera akibat petir.

Baca juga: Penggembala dan 19 Kerbau Tewas Tersambar Petir, Seberapa Sering Halilintar Menyambar?

Pencegahan

1. Hindari berada di ruang terbuka saat badai petir. Jika Anda mendengar guntur, meskipun langit tampak terang tak berawan, maka Anda sudah berisiko tersambar petir.

2. Hentikan segala aktivitas Anda dan segeralah mencari perlindungan di tempat yang tertutup. Namun, hindari area-area yang berelevasi tinggi atau objek yang yang tinggi, seperti pohon dan tiang listrik.

3. Jangan memegang objek besi yang panjang, seperti tongkat golf atau pancing, saat badai petir. Lepaskan juga objek-objek logam dari tubuh Anda, termasuk helm yang terbuat dari logam.

4. Jika Anda bersembunyi di dalam mobil, tutup semua jendela dan jangan sentuh bagian mobil apa pun yang terbuat dari logam. Jangan bersembunyi di dalam mobil golf.

5.Di dalam gedung pun, tutup semua jendela dan menjauhlah. Jangan gunakan alat-alat elektronik dan telepon yang terhubung dengan kabel karena aliran listrik bisa menyambar di luar dan melalui kabel.

6. Tunggu setidaknya 30 menit sejak petir atau guntur terakhir sebelum keluar dari tempat perlindungan.

Baca juga: Penggembala dan 19 Kerbau Tersambar Petir, Kenapa Halilintar Sangat Mematikan?

Berbagai cedera akibat tersambar petir

Sambaran petir bisa mengakibatkan bermacam-macam efek pada tubuh. Korban bisa langsung mengalami serangan jantung atau cedera jantung, hilang kesadaran atau menjadi linglung.

Lalu, hampir dua per tiga korban sambaran petir serius mengalami keraunoparalisis, sejenis paralisis atau kondisi lumpuh sementara yang diakibatkan oleh sambaran petir.

Korban sambaran petir langsung juga mungkin mengalami luka-luka di permukaan kulit. Kebalikan dengan anggapan umum, luka yang dalam jarang terjadi akibat sambaran petir langsung.

Gendang telinga korban juga bisa robek dan menyebabkan rasa sakit, kehilangan pendengaran dan pusing.

Bila petir melukai mata, korban bisa mengalami gangguan pengelihatan atau belakangan mengalami katarak.

Paru-paru korban juga bisa terluka dan membuatnya kesulitan bernapas.
Lalu kalaupun korban tidak langsung tersambar petir, dia bisa mengalami patah tulang, tengkorak retak dan luka tulang leher ketika terlempar.

Meskipun tidak menunjukkan luka di luar tubuh, seseorang yang tersambar petir harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan evaluasi.

Akan tetapi, jika korban menjadi tidak sadar, mengalami paralisis, sakit pada area dada, kesulitan bernapas, sakit punggung atau leher, menunjukkan tanda-tanda patah tulang dan mengalami luka bakar; mintalah bantuan ambulans untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.

Baca juga: Tersambar Petir Sepermilidetik, Efeknya Seumur Hidup

Diagnosis dan penanganan

Untuk menentukan kondisi pasien yang tersambar petir, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan.

Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan alat-alat, seperti elektrokardiogram untuk mengecek kondisi jantung, monitor jantung untuk melihat ritme jantung, CT scan untuk memeriksa otak dan perut, X-ray dan tes laboratorium untuk melihat enzim yang bisa menjadi pertanda kerusakan jantung.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja, korban mungkin akan diperbolehkan pulang dengan rujukan ke spesialis.

Namun, bila dokter mendapati luka pada kepala yang ditandai dengan hilangnya kesadaran atau kondisi linglung, pasien mungkin harus berada di rumah sakit lebih lama untuk mendapat observasi lebih lanjut.

Observasi juga diberikan bila korban mengalami keraunoparalisis.

Baca juga: Antena TV Tingkatkan Potensi Sambaran Petir, Ini Penjelasannya

Kemudian bila dokter menduga adanya cedera pada jantung, dokter biasanya akan melakukan observasi lebih lanjut dan memberikan obat yang sesuai bagi pasien.

Cedera pada area mata dan telinga juga akan ditangani oleh dokter spesialis yang sesuai.
Apabila pasien mengalami luka pada tulang belakang, biasanya penanganannya berupa observasi lebih lanjut atau stabilisasi secara bedah.

Pembedahan juga bisa digunakan untuk menangani tulang yang patah, beserta dengan imobilisasi menggunakan splint.

Bila dokter menduga adanya cedera pada saraf yang ditandai dengan rasa kesemutan atau baal, pakar neurologi akan dilibatkan untuk memonitor dan menangani.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com