Dari Warsito sampai Bajakah, Kenapa Banyak Penelitian Susah Terealisasi?

Kompas.com - 15/08/2019, 18:33 WIB
Ilustrasi CakeioIlustrasi

KOMPAS.com- Sebelum viralnya akar Bajakah untuk obat kanker payudara, masih ingatkah Anda dengan penemuan jaket dari Warsito yang pada tahun 2016 lalu yang dikatakan sebagai alternatif terapi kanker? Pada masa itu, masyarakat juga antusias agar jaket karya Warsito bisa segera diproduksi secara masal dan digunakan masyarakat penderita kanker.

Ternyata, proses menjadikan suatu penemuan atau penelitian sebagai barang komersial tidaklah sesederhana yang dipikirkan masyarakat, termasuk riset kesehatan maupun alat-alat bermanfaat lainnya.

Wakil Direktur Indonesia Medical Education Research Institute (IMERI), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), Prof DR Dr Budi Wiweko SpOG (K) MPH, memaparkan bahwa dalam mendorong suatu ide penelitian atau penelitian awal menjadi sebuah inovasi, dibutuhkan keterlibatan banyak aspek.

Di antara aspek-aspek tersebut adalah aspek akademisi, penelitian dan industri.

Baca juga: Perlu TTO agar Karya Peneliti Indonesia Bisa Segera Dirasakan oleh Masyarakat

Ketiga aspek ini umumnya berkaitan karena penelitian kebanyakan dilakukan oleh para akademisi. Lalu, jika penelitian awal sudah berjalan dan ingin diproduksi secara masal, maka dibutuhkan fase penelitian atau klinis panjang (bisa tahunan hingga puluhan tahun) yang melibatkan perusahaan atau industri dengan alat uji coba dan dananya.

Pasalnya, kekurangan dana biasanya menjadikan penelitian ditunda atau bahkan gagal. Donatur industri maupun pribadi adalah alternatif terbaik untuk melanjutkan target penelitian. Namun, memang tidak semudah itu mencari donatur yang sesuai dengan penelitian yang ada.

Sayangnya, seperti diakui oleh profesor yang akrab dipanggil Iko ini, para peneliti sering kali kesulitan berkomunikasi dengan pelaku industri.

"Karena orang industri itu akan tanya mengenai murah dan mudah enggak bahannya, terus laku enggak di pasarnya nanti, banyak yang butuh enggak," jelas Iko.

“Lebih lagi kalau berkaitan lagi dengan birokrasi. Misalnya birokrasi universitas yang harus mengurus ini dan itu dulu. Biasanya orang industri mikir-mikir dan banyak yang pada akhirnya malah mundur, karena risiko besar yang sering tidak seimbang dengan income (pendapatan) mereka nantinya. Makanya susahnya disitu,” imbuh Iko.

Baca juga: Untuk Jadi Obat Kanker, Akar Bajakah Harus Melewati Fase-fase Ini

Senada dengan Iko; Ketua Business Innovation Center, Ir Kristanto Santoso Mscm IPM, berpendapat bahwa tantangan utama dalam berinovasi di bidang teknologi dan kesehatan saat ini adalah kontinuitas pengembangan karya dan inovasi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X