Sate Lipan Laris Diekspor ke Vietnam, Bagaimana dengan Bisanya?

Kompas.com - 15/08/2019, 06:04 WIB
Tumpukan lipan yang siap untuk disate. Lipan ini dalam keadaan hidup dijadikan sebagai pakan ikan arwana sedangkan dalam keadaan mati kering dikirim ke Surabaya dan ekspor ke Vietnam.Dewantoro Tumpukan lipan yang siap untuk disate. Lipan ini dalam keadaan hidup dijadikan sebagai pakan ikan arwana sedangkan dalam keadaan mati kering dikirim ke Surabaya dan ekspor ke Vietnam.

KOMPAS.com – Cerita Ricky Santri Kurniawan yang mengekspor sate lipan hingga ke Vietnam menarik perhatian banyak orang Indonesia. Dia mengaku bisa beromzet ratusan juta dari usahanya.

Dituturkannya kepada Kompas.com, Selasa (13/8/2019), dia mendapatkan lipan-lipan tersebut dari para petani yang menjualnya sudah dalam keadaan tidak berbisa. Pasalnya, bisa lipan dapat menyebabkan pembengkakan dan demam.

Namun, sebetulnya bisa lipan bukan tidak berharga. Di dunia sains, bisa lipan dianggap sebagai salah satu bahan yang paling berpotensi untuk berbagai aplikasi terapi. Salah satunya sebagai obat analgesik (mematikan rasa sakit) yang lebih aman daripada morfin.

Dilansir dari South China Morning Post, 14 Oktober 2015; banyak lembaga-lembaga militer di dunia yang mengandalkan morfin untuk menangani rasa sakit ketika berperang. Namun, morfin memiliki banyak efek samping, seperti menganggu pernapasan dan tekanan darah. Jika dipakai pada jangka panjang, morfin juga menyebabkan kecanduan.

Baca juga: Sate Lipan Laris Diekspor ke Vietnam, Bisakah Jadi Makanan Alternatif?

Nah, dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2013; sekelompok peneliti berhasil mengisolasikan senyawa RhTx dalam bisa lipan kepala merah China (Scolopendra subspinipes mutilans) yang berpotensi untuk mematikan rasa sakit lebih efektif daripada morfin dan tanpa efek samping.

Penemuan ini berangkat dari ide bahwa bila sebuah senyawa bisa mengaktifkan rasa sakit, maka ia seharusnya juga bisa mematikan rasa sakit.

Setelah menggunakan berbagai metode observasional, seperti nuclear magnetic resonance dan pencitraan fluoresens, para peneliti mendapati bahwa senyawa RhTx pada bisa lipan menyebabkan rasa sakit karena memicu peringatan palsu pada sistem saraf korbannya.

Cara kerjanya dengan mengikatkan diri pada TRPV1, sebuah protein sensor panas, dan membuat korbannya merasa seakan-akan disiram oleh air panas.

Baca juga: Dari Mematikan hingga Tak Berbahaya, Kenapa Bisa Ular Berbeda-beda?

Namun ketika para peneliti memprogram RhTx untuk bekerja sebaliknya, mereka bahkan bisa membuat hewan yang diuji praklinis berenang dalam air mendidih tanpa menyadari bahwa tubuhnya melepuh.

Para peneliti pun menulis bahwa temuan mereka membuka pintu untuk modifikasi molekuler yang mengubah bisa lipan dari penyebab rasa sakit menjadi pemati rasa sakit. Namun, penelitian lebih lanjut masih harus dilakukan.

“Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah bisa lipan akan menggantikan morfin dan menjadi analgesik terbaik,” ujar Profesor Lai Ren dari Chinese Academy of Sciences yang memimpin studi.

Baca juga: Cerita Ricky, Raup Omzet Ratusan Juta dari Jual Sate Lipan, Ekspor hingga ke Vietnam

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X