Beda Pendapat KLHK, BMKG, dan Data AirVisual soal Udara Jakarta

Kompas.com - 01/08/2019, 14:53 WIB
Pemandangan laut dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta Utara, Rabu (31/7/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPemandangan laut dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta Utara, Rabu (31/7/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.


JAKARTA, KOMPAS.com – Perbincangan tentang kondisi udara Jakarta memancing tanggapan dari berbagai pihak.

Topik ini banyak dibicarakan sejak portal daring penyedia peta polusi udara kota-kota di dunia, AirVisual, menempatkan Jakarta sebagai kota yang menduduki peringkat atas sebagai kota dengan kondisi udara yang buruk.

Per Kamis (1/8/2019) pukul 12.30 WIB, misalnya, berdasarkan data yang dipaparkan AirVisual Jakarta ada di posisi pertama sebagai kota dengan polusi udara terburuk.

Bahkan, dinyatakan dalam status tidak sehat.

Menurut AirVisual, angka AQI di kisaran 151-200 masuk dalam kategori tidak sehat, termasuk Jakarta yang ada di angka 162.

Di bawah Jakarta, Ulanbator, Mongolia, menempati posisi kedua dengan AQI 161 dan Tasken, Uzbekistan di posisi ketiga.

Baca juga: Komentar Jokowi soal Polusi di Jakarta...

Posisi ini bisa berubah secara cepat tergantung kondisi udara terkini yang terdeteksi.

Namun, data dan indikator yang disebutkan oleh AirVisual dikonter pemerintah dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( KLHK) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG).

Kepala Subbidang Prediksi Cuaca BMKG Agie Wandala Putra menyebutkan, berdasarkan data BMKG, kondisi udara di Jakarta tidak seburuk sebelumnya.

Lapisan berwarnah putih kelabu yang terlihat menyelimuti Jakarta merupakan bentuk polutan yang terperangkap dan sulit terurai oleh atmosfer.

Layer warna putih kelabu itu polutan sebenarnya. Udara kering yang menyatu dengan asap kendaraan, cerobong asap, dan lain-lain,” kata Agie.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X