Tangkuban Parahu Erupsi, Hingga Saat Ini Masih di Level I Normal

Kompas.com - 27/07/2019, 11:58 WIB
Gunung Tangkuban Parahu di Jawa Barat mengalami erupsi, Jumat (26/7/2019). Dok BNPBGunung Tangkuban Parahu di Jawa Barat mengalami erupsi, Jumat (26/7/2019).

 BANDUNG, KOMPAS.com - Gunung Tangkuban Parahu mengalami erupsi dan mengeluarkan abu vulkanik pada Jumat (26/7/2019) pukul 15.48 WIB.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana geologi (PVMBG) dari Pos Pengamatan Gunung Api Tangkuban Parahu, yang dilakukan pada hari Sabtu (27/7/2019) pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB, tingkat aktivitas gunung api masih berada di level I alias normal.

"Cuaca terpantau cerah dengan angin bertiup lemah ke arah selatan, suhu udara berkisar 15 hingga 16 derajat celcius, kelembaban udara 0-0 persen dan tekanan udara 0-0 mmHg," ungkap Kepala PVMBG Kasbani melalui siaran pers kepada Kompas.com, Sabtu (27/7/2019).

Hingga saat ini, gunung api dengan ketinggian 2.084 meter di atas permukaan air laut (MDPL) itu sudah mengalami empat kali gempa dengan amplitudo lima hingga 22 mm, dan durasi 12 hingga 20 detik.

Baca juga: Tangkuban Parahu Meletus Tiba-Tiba, Ini Catatan dari Ahli

"Berdasarkan pengamatan visual, kondisi gunung masih terlihat jelas hingga kabut 0-1, serta asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang dan tinggi 50 meter di atas puncak kawah," imbuh Kasbani.

Selain itu, juga terjadi kegempaan tremor menerus (microtremor) yang terekam dengan amplitudo tiga hingga 22 mm (dominan 12 mm).

Meksi demikian, PVMBG menghimbau agar masyarakat di sekitar lokasi dan pengunjung, wisatawan serta pendaki tidak diperbolehkan turun mendekati dasar kawah Ratu dan Kawah Upas.

"Para pengunjung juga tidak boleh menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks Gunung Tangkuban Parahu," tegas dia.

Ketika cuaca mendung dan hujan, para pengunjung juga tidak diperbolehkan menginap di kawasan kawah-kawah aktif kompleks Gunung Tangkuban Parahu dikarenakan terdapatnya gas-gas vulkanik yang dapat membahayakan kehidupan manusia.

Masyarakat di sekitar lokasi, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata Gunung Tangkuban Parahu juga diminta mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Baca juga: Tangkuban Parahu Erupsi, Ahli Sayangkan Aktivitas Wisata Terlalu Dekat

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Prof Cilik
Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X