Hari Anak Nasional: Bernarkah Sedikit Mainan Bikin Anak Makin Kreatif?

Kompas.com - 23/07/2019, 18:00 WIB
Ilustrasi mainan Thomas NorthcutIlustrasi mainan

KOMPAS.com - Anak-anak identik dengan mainan. Sering kali, para orang tua baru terlalu bersemangat sampai membanjiri anak mereka dengan mainan dari yang paling sederhana hingga rumit.

Rasanya, dengan mainan kita bisa membahagiakan dan melindungi putra-putri tersayang. Tema perayaan Hari Anak Nasional 2019 pun mengambil tema "Peran Keluarga dalam Perlindungan Anak".

Sering kali, orang tua berusaha melindungi anak agar tak dapat pengaruh negatif dengan memberinya mainan yang bisa dikontrol.

Namun, perkara mainan ini kemudian menuai pertentangan di kalangan orang tua. Beberapa orang tua beranggapan bahwa mainan dapat menstimulai tumbuh kembang anak.

Di sisi lain, banyak juga orang tua yang berasumsi bahwa anak lebih kreatif jika tak punya banyak mainan.

Kedua pendapat itu tidak sepenuhnya salah. Beberapa mainan memang memiliki manfaat untuk menstimulasi tumbuh kembang anak.

Meski begitu, terlalu banyak mainan juga tidak baik bagi putra-putri Anda.

Baca juga: Beli Uang Mainan dengan Uang Asli, Kenapa Dulu Kita Melakukan Ini?

Penelitian Membuktikan

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan di University of Toledo, Ohio, AS menemukan bahwa terlalu banyak mainan tak bagus buat anak.

Hasil temuan mereka menunjukkan bahwa anak yang memiliki banyak mainan justru tak bisa fokus dan menikmati waktu bermainnya.

Studi tersebut dilakukan dengan mengamati 36 anak balita. Anak-anak tersebut kemudian diundang masuk ke ruang bermain yang berbeda selama satu setengah jam.

Di ruang pertama, anak-anak mendapati 4 maninan saja. Sedangkan di ruang kedua, mereka menemuka 16 mainan.

Uniknya, hasil studi menemukan anak-anak dengan mainan lebih sedikit cenderung lebih kreatif.

Mereka tidak hanya memainkan mainan tersebut sesuai fungsi aslinya, tapi juga memikirkan cara bermain yang lain.

Tak hanya itu, anak-anak di ruang pertama juga lebih menyadari keberadaan orang di sekitar mereka. Mereka bermain dengan anak-anak lain dibanding kelompok anak-anak di ruang kedua.

"Penelitian ini berusaha menentukan apakah jumlah mainan di lingkungan balita mempengaruhi kualitas bermain mereka," kata Dr Carly Dauch, penulis utama temuan ini dikutip dari The Telegraph, Selasa (5/12/2017).

"Semakin banyak jumlah benda, di ruang 16 mainan, tampaknya mengganggu durasi dan kualitas bermain. Keberadaan mainan lain yang ada mungkin telah menciptakan sumber gangguan eksternal," sambungnya.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Infant Behavior and Development tersebut menyebutkan bahwa selama masa perkembangan, balita belum sepenuhnya menguasai dan mengontrol perhatian atau konsentrasi.

Baca juga: Bermain dengan Mainan Tradisional Bikin Bayi Cepat Bicara

Perhatian dan permainan mereka mungkin terganggu oleh faktor-faktor di lingkungan mereka yang menimbulkan gangguan. Dalam hal ini, faktor tersebut adalah jumlah mainan.

"Bila diberi mainan lebih sedikit, balita terlibat dalam permainan yang lebih lama dengan satu mainan, yang memungkinkan fokus mereka menjadi lebih baik untuk mengeksplorasi dan lebih kreatif," tulis laporan tersebut.

Saran Peneliti

Dalam kesimpulan laporan penelitian mereka, para peneliti menyarankan orang tua, sekolah, maupun pengasuh untuk tidak memberikan banyak mainan pada anak.

Para ilmuwan itu menegaskan, hal ini dimaksudkan agar anak-anak menjadi lebih kreatif dan memiliki rentang fokus lebih baik.

Meski demikian jangan langsung membuang mainan yang sudah Anda belikan untuk putra-putri tercinta. Hanya saja, Anda bisa mulai menahan godaan "lapar mata" saat melihat mainan ketika berbelanja.

Perhatikan apakah mainan-mainan itu benar-benar dibutuhkan anak Anda?

Jika godaan membeli mainan anak masih cukup kuat, Anda bisa ingat beberapa penelitian lain mengenai hal ini.

Sedikit Mainan Bikin Anak Gunakan Akalnya

Penelitian yang dilakukan di Jerman pada 1990-an juga menemukan bahwa semakin sedikit mainan membuat anak-anak kian menggunakan akalnya.

Penelitian ini fokus pada anak-anak yang mainannya diambil selama 3 bulan.

Setelah tidak mendapat mainan selama beberapa minggu, anak-anak dapat menyesuaikan diri dan menjadi jauh lebih kreatif dan bersosialisasi.

Temuan ini kemudian dibukukan dengan judul The Nursery Free Toy. Dalam buku tersebut, para peneliti menjelaskan bahwa mainan yang lebih sedikit membantu anak-anak mengembangkan kreativitas dan fokus.

Mereka juga lebih belajar untuk merawat barang-barangnya.

"Bila anak-anak memiliki terlalu banyak mainan, mereka tentu saja akan kurang memperhatikannya. Mereka tidak akan belajar menghargai jika selalu ada pengganti yang siap di tangan," tulis buku tersebut.

"Mainan yang lebih sedikit membuat anak menjadi cukup akal memecahkan masalah hanya dengan bahan yang ada. Dan akal merupakan pemberian yang tak terbatas," imbuhnya.

Baca juga: Optimalkan Tumbuh Kembang Anak Lewat Mainan



Sumber Telegraph
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat dibanding Rapid Test

Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat dibanding Rapid Test

Oh Begitu
Ahli Kini Tahu Alasan Perubahan Warna Kulit pada Pasien Covid-19

Ahli Kini Tahu Alasan Perubahan Warna Kulit pada Pasien Covid-19

Oh Begitu
Kemoterapi Pasien Kanker yang Kena Covid-19 Tidak Berisiko Kematian

Kemoterapi Pasien Kanker yang Kena Covid-19 Tidak Berisiko Kematian

Oh Begitu
Lolos dari Maut, Kumbang Ini Bertahan Hidup meski Telah Dimakan Katak

Lolos dari Maut, Kumbang Ini Bertahan Hidup meski Telah Dimakan Katak

Oh Begitu
Rahasia Alam Semesta: Seberapa Besar Alam Semesta ini?

Rahasia Alam Semesta: Seberapa Besar Alam Semesta ini?

Oh Begitu
Sering Tidak Terdiagnosis, Kenali Penyakit Autoimun Sjogren's Syndrome

Sering Tidak Terdiagnosis, Kenali Penyakit Autoimun Sjogren's Syndrome

Oh Begitu
Seri Baru Jadi Ortu: Bayi Pilek, Bagaimana Cara Sedot Ingusnya?

Seri Baru Jadi Ortu: Bayi Pilek, Bagaimana Cara Sedot Ingusnya?

Oh Begitu
Diabetes Penyakit Turunan, Mungkinkah Bisa Dicegah?

Diabetes Penyakit Turunan, Mungkinkah Bisa Dicegah?

Oh Begitu
Penyakit Baru di China Menghantui di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Itu Virus Tick Borne?

Penyakit Baru di China Menghantui di Tengah Pandemi Covid-19, Apa Itu Virus Tick Borne?

Fenomena
Studi Temukan, OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala

Studi Temukan, OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala

Oh Begitu
Obesitas di Amerika Serikat bisa Turunkan Efektivitas Vaksin Covid-19

Obesitas di Amerika Serikat bisa Turunkan Efektivitas Vaksin Covid-19

Fenomena
Unika Atma Jaya Jakarta Resmikan Laboratorium Covid-19 Aman Lingkungan

Unika Atma Jaya Jakarta Resmikan Laboratorium Covid-19 Aman Lingkungan

Oh Begitu
AI Bisa Jadi Alat Transformasi Sampah Menjadi Produks Bernilai Seni, Kok Bisa?

AI Bisa Jadi Alat Transformasi Sampah Menjadi Produks Bernilai Seni, Kok Bisa?

Oh Begitu
Waspada, Penderita Diabetes Pengidap Covid-19 Lebih Banyak Meninggal

Waspada, Penderita Diabetes Pengidap Covid-19 Lebih Banyak Meninggal

Oh Begitu
Penciptaan AI Juga Butuh Etika, Apa Maksudnya? Ini Penjelasan Ahli

Penciptaan AI Juga Butuh Etika, Apa Maksudnya? Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X