Hari Anak Nasional: Perjuangan Posyandu Bak Garda Depan Atasi Stunting

Kompas.com - 23/07/2019, 13:33 WIB
Sebanyak empat posyandu dibangun di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Dok. InalumSebanyak empat posyandu dibangun di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

KOMPAS.com - "Dari Istana Negara, saya ingin menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh anak Indonesia. Bergembiralah dan tumbuhlah menjadi anak-anak yang sehat, cerdas, taat kepada orang tua, patuh kepada bapak dan ibu guru, takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan cinta kepada Tanah Air kalian yang indah dan luas ini," kata Soeharto dalam pidato perayaan Hari Anak Nasional 35 tahun lalu.

Harapan Soeharto itu mungkin masih menjadi cita-cita dan PR bersama yang harus kita kerjakan.

Salah satu visi Presiden Jokowi lima tahun ke depan juga berhubungan dengan kesehatan anak-anak, terutama menuntaskan masalah stunting di Indonesia.

Dalam siaran pers Situs Kantor Staf Presiden (KSP), ksp.go.id, diungkap bahwa pusat pelayanan terpadu ( Posyandu) sangat penting peranannya dalam upaya pencegahan stunting.

Baca juga: Soal Stunting, AIMI Sebut Pembagian Asupan Tambahan Tidak Efektif

Tenaga Ahli Utama Kedeputian III Kantor Staf Presiden, Brian Sriprahastuti, saat menjadi Keynote Speaker pada peringatan Hari Anak Nasional yang digagas 1000 Days Fund dengan tema Stunting: Costs, Causes and Courses for Action di Ruang Komunal One Pacific Place pada Minggu (21/7/2019), mengungkap posyandu di Indonesia hampir separuhnya tidak aktif.

Menurut Brian, sebagian besar Posyandu, yang seharusnya memberikan layanan 5 meja, kurang kapasitas dalam memberikan edukasi, penyuluhan dan konseling tumbuh kembang anak kepada ibu hamil dan orang tua/pengasuh balita.

Salah satu penyebabnya karena kader Posyandu tidak dibekali keterampilan tersebut.

Dengan situasi demikian, banyak orang tua dari balita di atas usia satu tahun yang sudah lulus imunisasi dasar lengkap tidak lagi datang ke Posyandu karena tidak merasakan manfaatnya.

"Saat masyarakat perkotaan memiliki alternatif seperti Rumah Sakit atau klinik, masyarakat pedesaan hanya bisa datang ke Posyandu bagaimanapun kondisinya," kata Brian.

KSP menegaskan, jika tidak segera diperbaiki, bukan tidak mungkin Posyandu akan kehilangan kepercayaan masyarakat.

Padahal, selain memberikan layanan gratis yang dekat dengan tempat tinggal, Posyandu bisa menjadi tempat para orang tua berkumpul untuk berbagi pengalaman dalam merawat dan mengasuh balita.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X