Pidato Visi Indonesia Jokowi, Emak-emak hingga Peneliti Beri Tanggapan

Kompas.com - 14/07/2019, 21:49 WIB
Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan pidato Visi Indonesia di Sentul, Bogor, Minggu (14/7/2019). YOUTUBE KOMPAS TVPresiden terpilih Joko Widodo menyampaikan pidato Visi Indonesia di Sentul, Bogor, Minggu (14/7/2019).

KOMPAS.com - Jokowi berorasi untuk pertama kalinya setelah terpilih sebagai presiden predio 2019 - 2014 pda Minggu (14/7/2019). Dia mengungkapkan sejumlah gagasan mulai dari pembangunan infrastruktur hingga menggagas manajemen talenta.

Salah satu gagasan yang terkait dengan sains, teknologi, dan lingkungan adalah pembangunan infratruktur. Jokowi mengatakan bahwa ini akan menghubungkan infratruktur besar yang selama ini telah dibangun ke daerah kecil.

"Kita sambungkan dengan kawasan industri kecil, sambungkan ke kawasan ekonomi khusus, sambungkan ke kawasan pariwisata. Kita juga harus menyambungkan infrastruktur besar dengan kawasan persawahan, kawasan perkebunan, dan tambak-tambak perikanan," urainya.

Jokowi juga menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia. Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada ibu dan bayi yang meninggal saat kelahiran, mengurangi angka stunting secara signifikan, serta memperbaiki kualitas pendidikan dan membuat manajemen talenta.

Baca juga: Punakawan Jadi Saksi Jokowi Bertemu Prabowo, Ini Makna di Baliknya

"Bisa dipastikan pentingnya vocational training, pentingnya vocational school. Kita juga akan membangun lembaga manajemen talenta Indonesia. Pemerintah akan mengidentifikasi, memfasilitasi, serta memberikan dukungan pendidikan dan pengembangan diri bagi talenta-talenta Indonesia," ungkap Jokowi.

Kalangan yang terkait dengan visi Jokowi tersebut memberikan tanggapan kepada Kompas.com. Yanti, seorang ibu sekaligus pekerja di Cibinong mengapresiasi langkah Jokowi untuk fokus pada pembangunan sumber daya manusia sekaligus memberikan saran berharga.

"Setiap daerah punya kekuatan lokal yang saat ini perlahan menghilang karena tuntutan kompetisi. Misalnya, sekarang mana ada remaja tertarik menjadi petani atau nelayan," ungkapnya kepada Kompas.com. Menurutnya, remaja itu harus dibina sebagai petani modern sehingga bisa menghasilkan produk pertanian berkualitas.

Alan Frendy Koropitan dari Akademi Ilmuwan Muda Indonesia menilai bahwa visi pembangunan sumber daya manusia Jokowi cukup mendasar. "Ini komprehensif sehingga sebagai peneliti saya berharap optimisme bangsa akan bangkit. Semangat ini yang kita perlukan," katanya.

Terkait semangat inovasi Jokowi, Alan menuturkan besarnya tantangan untuk kemandirian bangsa. Jadi, dibutuhkan pendanaan penelitian tidak hanya untuk bidang yang aplikatif, tetapi juga penelitian bidang dasar seperti genetika, fisika, dan lainnya.

"Oleh sebab itu, sudah waktunya dana penelitian independen, bersifat kompetisi, bisa diakses oleh semua peneliti dan bersifat multi-year," katanya.

Baca juga: Jokowi Dikira Monyet, Kulit Hitam Dikira Gorila, Google Masih Harus Sekolah

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Prof Cilik
Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X