Berkat Implan Otak, 6 Pasien Buta Bisa “Melihat” Kembali

Kompas.com - 13/07/2019, 20:33 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com – Enam pasien yang telah buta bertahun-tahun mendapatkan kembali sebagian kemampuannya untuk melihat setelah menjalani implan otak.

Dilansir dari Press Association, Sabtu (13/7/2019); elektroda yang ditanamkan di kepala tersebut mengirimkan video dari kamera pada kacamata langsung ke otak, tanpa perlu melewati mata dan saraf optik yang berfungsi untuk mengirimkan informasi visual ke korteks visual otak.

Untuk menguji teknologi ini, para spesialis dari Baylor Medical College di Texas dan University of California Los Angeles, Amerika Serikat, meminta para partisipan untuk mengidentifikasi dan memberitahukan keberadaan kotak putih yang muncul secara acak di layar monitor.

Mayoritas partisipan mampu mengetahui letak kotak putih dengan menggunakan implan yang terhubung pada kacamata mereka.

Baca juga: Kenapa Pendengaran Orang Buta Lebih Sensitif? Studi Awal Mengungkapnya

Teknologi ini juga diuji coba oleh para partisipan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah seorang partisipan, Paul Philip, yang telah buta selama hampir satu dekade berkata bahwa ketika dia menggunakannya untuk berjalan-jalan bersama istrinya, dia bisa mengetahui di mana batas jalan dan rumput. Dia juga bilang bisa mengetahui letak sofa putihnya di rumah dengan implan dan kacamata.

Menanggapi terobosan ini, dosen di University College London dan dokter bedah di Optegra Eye Hospital, Alex Shortt, berkata bahwa teknologi ini membuka banyak potensi bagi banyak orang.

“Sebelumnya, semua percobaan untuk menciptakan mata bionik berfokus untuk mengimplan mata. Artinya, Anda butuh mata dan saraf mata yang bekerja dengan baik,” katanya.

Baca juga: Bagaimanakah Cara Orang Buta Bermimpi? Penelitian Mengungkapnya

“Dengan melompati mata sepenuhnya, Anda membuka potensi bagi banyak orang. Ini merupakan perubahan paradigma dalam mengobati orang-orang dengan kebutaan total. Ini merupakan pesan harapan yang sesungguhnya,”ujarnya lagi.

Sayangnya, teknologi ini belum pernah diuji coba pada pasien yang telah buta dari lahir. Peneliti studi dan dokter bedah otak Daniel Yoshor pun mengakui bahwa hasil kerjanya bersama tim ini masih jauh dari apa yang mereka ingin capai.

“Ini merupakan saat yang sangat menyenangkan di bidang neurosains dan neuroteknologi, dan saya merasa bahwa dalam hidup saya, kia akan bisa mengembalikan kemampuan melihat yang fungsional bagi orang-orang yang buta,” ujar Yoshor.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X