Kompas.com - 12/07/2019, 18:07 WIB
dr. Leonardi A. Goenawan, Sp. KJ
Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa
RS Pondok Indah ? Puri Indah dan RS Pondok Indah ? Bintaro Jaya RS Pondok Indahdr. Leonardi A. Goenawan, Sp. KJ Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa RS Pondok Indah ? Puri Indah dan RS Pondok Indah ? Bintaro Jaya

Selain itu, penderita bisa merasa tercekik, nyeri dada, mual, kesemutan, mulut kering, mengalami kebingungan atau disorientasi, pusing atau sakit kepala.

Berdasarkan gejala yang Bapak sampaikan, tampaknya yang Bapak alami bisa dikategorikan sebagai suatu fobia spesifik ringan.

Dianggap spesifik, karena hanya terhadap nasi saja reaksi sistem pencernaan tersebut timbul; dan dianggap ringan karena intensitas yang relatif ringan, yaitu hanya berupa mual saat bertemu dengan nasi, namun masih bisa mengonsumsi olahan beras lainnya, juga tidak banyak gejala lainnya yang menyertai.

Selain itu, tidak disampaikan adanya gangguan fisik lain yang sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Baca juga: Halo Prof! Apa Efeknya Menelan Buih Pasta Gigi pada Gigi Balita?

Hingga saat ini fobia dianggap disebabkan oleh interaksi yang kompleks antara pengalaman masa kecil, regulasi neurotransmitter (khususnya serotonin) di otak dan genetik seseorang.

Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan atau berpotensi berbahaya akan disimpan di area tertentu di otak. Bila suatu ketika di kemudian hari kita menghadapi peristiwa yang dianggap mirip dengan memori tersebut, maka tubuh akan bereaksi kurang lebih sama seperti pada saat menghadapi kejadian tersebut di masa lampau.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada fobia, area tersebut akan diaktivasi secara tidak wajar, sehingga seakan-akan kejadian yang sama terulang (setiap bertemu nasi, seperti merasakan "nasi lembek yang belum masak betul").

Para peneliti menemukan bahwa fobia dan gangguan kecemasan lainnya berhubungan dengan bagian otak yang bernama amygdala. Saat amygdala bereaksi, maka akan memicu lepasnya hormon-hormon ‘fight-or-flight’, yang membuat tubuh dalam kondisi siaga dan keadaan stres. Kondisi tersebut biasa Bapak alami berupa gejala mual.

Apabila fobia tidak dianggap mengganggu aktivitas sehari-hari, biasanya dapat hilang dengan sendirinya secara bertahap.

Baca juga: Halo Prof! Bahayakah Bila Sering Nyeri Dada Mendadak?

Bapak bisa mulai sedikit demi sedikit mencoba merasakan kembali tekstur nasi yang biasa Bapak kenali dengan baik – yang sesuai dengan pengalaman positif Bapak terhadap nasi. Lama kelamaan, Bapal akan kembali terbiasa dan tidak lagi merasakan mual.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.