Rahasia Alam Semesta: Apakah Jagat Raya Berputar Seperti Bumi?

Kompas.com - 10/07/2019, 17:35 WIB
Ada 20 bintang hipercepat yang melaju dengan kecepatan ekstrem menyerang Bima Sakti. Tujuh di antaranya (ditandai dengan warna merah) bergerak dengan sangat cepat sehingga bisa keluar dari gravitasi Bima Sakti. Sisanya, 13 bintang (ditandai warna kuning) justru menuju Bima Sakti. Ahli menduga mereka berasal dari galaksi tetangga, Awal Magellan Besar. Ada 20 bintang hipercepat yang melaju dengan kecepatan ekstrem menyerang Bima Sakti. Tujuh di antaranya (ditandai dengan warna merah) bergerak dengan sangat cepat sehingga bisa keluar dari gravitasi Bima Sakti. Sisanya, 13 bintang (ditandai warna kuning) justru menuju Bima Sakti. Ahli menduga mereka berasal dari galaksi tetangga, Awal Magellan Besar.

KOMPAS.com - Bukan rahasia lagi bahwa bumi berputar menurut porosnya atau berotasi. Akibatnya, kita mudah melihat bintang, bulan, planet, atau bahkan galaksi seolah ikut bergerak atau berputar.

Selain itu, bulan, matahari, dan planet juga melakukan putaran serupa. Namun, yang jadi pertanyaan apakah alam semesta juga berputar?

Misteri putaran alam semesta ini telah lama jadi teka-teki bagi para ahli kosmologi. Hal ini diungkapkan oleh astrofisikawan Badan Antariksa AS (NASA), Tess Jaffe.

"Ini pertanyan yang sangat abstrak, seperti sebagian besar kosmologi, tetapi kami yang mempelajari kosmologi berpikir bahwa ini adalah cara untuk mempelajari fisika dasar," kata Jaffe dikutip dari Live Science, Minggu (07/07/2019).

Baca juga: Galaksi Tertua di Jagat Raya Ditemukan

"Ada hal-hal tertentu yang tidak dapat kami uji di laboratorium di Bumi, jadi kami menggunakan alam semesta dan geometrinya, yang bisa memberi tahu kami tentang fisika dasar," sambungnya.

Ketika memikirkan semesta, para ilmuwan mengasumsikan bahwa bahwa jagat raya tidak berputar dan isotropik (terlihat sama di semua arah).

Asumsi ini konsisten dengan persamaan Einstein. Berdasar pemikiran tersebut, para ilmuwan membangun standar model kosmologis yang menggambarkan alam semesta.

Untuk melihat apakah asumsi ini tepat, para ilmuwan mengumpulkan pengamatan untuk menguji model tersebut. Secara khusus, mereka mengumpulkan data menggunakan cahaya dari latar belakang gelobang mikro kosmik (CMB).

Sebagai informasi, CMB adalah cahaya tertua yang dapat kita amati dengan jarak 380 ribu tahun setelah Big Bang.

Para peneliti menemukan, cahaya CMB itu tidak menunjukkan bukti bahwa semesta berputar.

Studi dari ahli astrofisika Imperial College London pada 2016 menyimpulkan, kemungkinan alam semesta adalah isotropik sekitar 120.000 banding 1. Artinya, jagat raya terlihat sama, tidak peduli dari arah manapun Anda melihat.

Penelitian lain juga menemukan kemungkinan 95 persen alam semesta adalah homogen atau sama di mana-mana dalam skala besar.

Berbagai studi itu menunjukkan bahwa alam semesta kita bersifat seragam dan tidak berputar. Hasil ini cukup melegakan bagi para kosmolog yang percaya mengenai asumsi awal mereka.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X