Keseringan Dibasmi, Kecoak Berevolusi Jadi Mustahil untuk Dibunuh

Kompas.com - 03/07/2019, 18:07 WIB
Ilustrsai kecoak PoravuteIlustrsai kecoak

KOMPAS.com – Sebuah kabar mengkhawatirkan datang dari para peneliti di Amerika Serikat. Mereka menulis bahwa populasi kecoak sedang berevolusi dengan cepat untuk menjadi “nyaris mustahil” dibunuh menggunakan bahan kimia.

Dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports, para peneliti dari Purdue University menemukan bahwa ketika kecoak tidak mati setelah disemprot bahan insektisida, mereka akan mulai membangun imunitas terhadap bahan tersebut dan menurunkannya ke anak-anaknya.

Lebih buruknya, imunitas ini juga berlaku terhadap bahan insektisida lain yang satu kelompok, meskipun kecoak tidak pernah mendapat paparannya. Fenomena ini, disebut oleh para peneliti, sebagai “resistensi-silang”.

Baca juga: Roti Tepung Kecoak Ini Disebut Lebih Berprotein dari Daging, Mau Coba?

Para peneliti menemukan hal ini setelah mengujikan tiga macam insektisida terhadap kecoak di Indiana dan Illinois selama enam bulan.

Mereka menemukan bahwa ketika ketiga insektisida dirotasi penggunaannya secara teratur selama enam bulan, populasi kecoak bisa dikontrol meskipun tidak berkurang. Namun ketika yang digunakan hanya dua insektisida, populasi kecoak malah meledak.

Menariknya, ketika yang digunakan hanya satu insektisida saja, populasi kecoak yang sama sekali tidak punya resistensi bisa segera dibasmi. Namun jika ada 10 persen tersisa, populasinya malah meningkat drastis.

Inilah sebabnya kecoak zaman sekarang begitu sulit untuk dibasmi dari rumah Anda. Seekor kecoak betina bisa menghasilkan 50 anak setiap tiga bulan sekali. Jika ada satu saja kecoak di rumah Anda yang tidak mati, populasinya bila meledak lagi tiga bulan kemudian dan generasi berikutnya akan menjadi lebih kebal terhadap semprotan pembasmi serangga Anda.

Baca juga: Ilmuwan: Susu Kecoak Lebih Bergizi dari Susu Sapi

“Kita tidak punya bayangan hal seperti ini bisa terjadi dengan begitu cepat. Kita bisa melihat resistensi meningkat empat sampai enam kali hanya dalam satu generasi,” ujar Michael Scharf, profesor entomologi yang terlibat dalam studi, seperti dilansir dari The Independent, Selasa (2 Juli 2019).

Jika diteruskan, akan ada suatu saat di mana mengontrol populasi kecoak hanya dengan bahan kimia menjadi mustahil. Padahal, kecoak diketahui memproduksi alergen yang dapat memicu asma dan membawa berbagai macam patogen, termasuk Salmonella, E Coli dan enam jenis cacing parasit.

Dari hasil studi ini, para peneliti menyimpulkan bahwa cara terbaik untuk mengeliminasi kecoak adalah dengan mengombinasikan pestisida dengan metode-metode lainnya, termasuk perangkap dan peningkatan sanitasi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X