Kemarau Panjang, Waspadai Kebakaran Lahan dan Hutan

Kompas.com - 27/06/2019, 16:30 WIB
Petugas Manggala Agni Daops Dumai memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tanah gambut di wilayah Kelurahan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Riau,  Selasa (14/5/2019). Dok. Manggala Agni Daops Dumai KOMPAS.com/IDON TANJUNGPetugas Manggala Agni Daops Dumai memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tanah gambut di wilayah Kelurahan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Riau, Selasa (14/5/2019). Dok. Manggala Agni Daops Dumai

KOMPAS.com – Pada tahun 2019 ini, Indonesia diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang cukup panjang, melebihi periode musim kemarau pada tahun lalu.

Dugaan tersebut berdasarkan analisis BMKG, yang menyimpulkan bahwa musim hujan baru akan dimulai saat memasuki bulan Oktober.

Periode musim kemarau panjang ini tentunya dibarengi dengan curah hujan yang menurun serta suhu cuaca yang cukup tinggi, dua kondisi yang dapat memicu kondisi kekeringan di berbagai lokasi.

Pada lokasi tertentu, kondisi kekeringan berkepanjangan ini dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan, seperti yang terjadi di kawasan sabana Gunung Rinjani pada hari Minggu (23/6/2019) silam.

Lantas, dengan adanya musim kemarau panjang ini apakah kita perlu waspada akan kebakaran hutan dan lahan?

Baca juga: Masuk Musim Kemarau, Sebagian Wilayah Berpotensi Alami Kekeringan

“Secara sejarah, tahun 2015 kemarin terjadi kemarau panjang dan perubahan arah angin yang meningkatkan frekuensi kebakaran hutan,” ujar Dean Yulindra Affandi, Koordinator Sains dan Penelitain WRI Indonesia, saat ditemui di Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Kebakaran lahan dan hutan yang terjadi pada tahun 2015 silam terjadi di beberapa titik api yang tersebar di Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Kebakaran ini membumihanguskan area seluas dua juta hektar dan mengakibatkan kerugian sebesar 20 triliun rupiah.

Menurut Dean, wilayah yang saat ini paling rentan terhadap kebakaran lahan dan hutan adalah kawasan hutan gambut, terutama di daerah Riau, Sumatera Selatan dan Kalimantan, yang memiliki suhu relatif lebih tinggi dibandingkan kawasan hutan lain.

Sebagian besar ekosistem pada daerah tersebut merupakan lahan gambut, yang sangat rentan terhadap kebakaran.

“Celakanya, jika terjadi kebakaran di areal tersebut, karena adanya gas karbon monoksida yang terkandung di dalam hutan gambut maka akan sulit untuk memadamkannya,” jelas Dean.

Baca juga: Sudah Masuk Musim Kemarau, Kok Sebagian Wilayah Masih Hujan?

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Prof Cilik
Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X