Anomali Raksasa Terdeteksi di Dalam Bulan, Para Ilmuwan Bingung

Kompas.com - 13/06/2019, 19:59 WIB
Foto pencitraan NASA yang menampakkan basin Kutub Selatan-Aitken (biru). Lingkaran bertitik-titik menunjukkan lokasi massa misterius di bawahnya.baylor.edu Foto pencitraan NASA yang menampakkan basin Kutub Selatan-Aitken (biru). Lingkaran bertitik-titik menunjukkan lokasi massa misterius di bawahnya.
KOMPAS.com - Para ilmuwan baru saja mendeteksi "anomali raksasa" di sisi jauh Bulan.
 
Dilaporkan dalam Geophysical Research Letters, anomali ini terletak di bawah basin Kutub Selatan-Aitken, sebuah kawah besar akibat tabrakan purba yang panjangnya melebihi pulau Jawa.
 
Anomali ini berupa massa berbobot 2,2 quintilion (2.200.000.000.000.000.000) kilogram yang masuk hingga kedalaman 300 kilometer di bawah kawah, 10 kali lipat lebih dalam daripada kerak Bumi. 
 
"Bayangkan mengambil setumpukan logam yang lima kali lebih besar dari Pulau Besar Hawaii dan menguburnya di bawah tanah. Kira-kira sebesar itulah massa tak terduga yang kami deteksi," ujar penulis studi Peter B James dalam siaran pers yang dilansir dari CNN, Rabu (12/6/2019).
 
James dan para peneliti dari Baylor University menemukan massa misterius tersebut setelah mempelajari berbagai data yang mengukur gravitasi di sekitar Bulan. Mereka membandingkan data yang dikumpulkan oleh berbagai wahana antariksa tersebut dan membandingkannya dengn peta dan pencitraan permukaan Bulan. 
 
 
Hasilnya menunjukkan adanya massa logam padat yang menarik dari bawah lantai basin. 
 
Hingga saat ini, para peneliti belum mengetahui secara pasti identitas massa tersebut. Namun, mereka menduga bahwa itu adalah logam yang tertanam di mantel Bulan akibat tabrakan asteroid yang meninggalkan bekas kawah basin Kutun Selatan-Aitken 4 miliar tahun lalu, atau sisa lautan magma kuno di Bulan yang memadat. 
 
Jika dugaan pertama benar, para peneliti telah menemukan tambang emas dan mesin waktu yang bisa digunakan untuk mempelajari sejarah alam semesta sebelum terjadinya tabrakan asteroid. 
 
"(Basin) ini merupakan salah satu laboratorium alami terbaik untuk mempelajari dampak kejadian benxana, sebuah proses kuno yang membentuk semua planet berbatu dan bulan-bulan yang kita lihat sekarang," ujar James.
 




Close Ads X