Alasan NASA Kirim Sel Organ Manusia Hidup ke Stasiun Luar Angkasa

Kompas.com - 27/05/2019, 18:04 WIB
The Internationa Space Station atau Stasiun Luar Angkasa 23 Mei 2010 yang lalu wikipediaThe Internationa Space Station atau Stasiun Luar Angkasa 23 Mei 2010 yang lalu

KOMPAS.com – Para peneliti SpaceX baru saja mengirimkan chip jaringan, sebuah teknologi baru yang mengandung sel-sel organ tubuh manusia, ke stasiun luar angkasa (ISS) atas permintaan Badan Antariksa Amerika Serikat ( NASA).

Pengiriman ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman kita akan efek antariksa pada tubuh dan efektivitas pengobatan ketika sedang berada di luar angkasa.

Pasalnya, mikrogravitasi di luar angkasa telah terbukti dapat mengubah sel manusia menjadi lebih cepat tua.

Dalam sebuah eksperimen yang membandingkan kondisi fisiologis astronot Scott Kelly selama di ISS dengan saudara kembarnya Mark yang belum pernah ke luar angkasa, para ahli menemukan bahwa ribuan gen yang tidur dalam tubuh Mark menjadi aktif ketika Scott berada di luar angkasa.

Baca juga: NASA Gandeng 11 Perusahaan untuk Pendaratan Manusia di Bulan 2024

Selain perubahan gen, Scott juga mengalami perubahan pada mikrobioma, telomer, pembuluh darah, sistem imun dan performa kognisinya. Memang mayoritas perubahan ini kembali normal ketika Scott sampai ke Bumi, tetapi ada beberapa yang tidak.

Untuk mencari tahu apa yang terjadi pada tubuh Scott selama di luar angkasa, NASA pun mengirimkan chipjaringan yang meniru berbagai organ tubuh manusia, mulai dari ginjal, paru-paru, tulang sampai pelindung darah otak, ke luar angkasa.

Chip ini berbentuk transparan dan terdiri dari saluran-saluran yang mengandung sel manusia hidup, spesifik pada organ yang ditirunya. Chip juga dapat meniru aspek lingkungan organ dan biomekanikanya, misalnya gerakan detak jantung, ekspansi paru-paru yang bernapas, perubahan tekanan pada pembuluh darah dan bahkan kehangatan darah yang melaluinya.

Darah palsu yang mengalir juga akan membawa racun atau obat untuk diteliti efeknya pada chip.

Melalui metode ini, para peneliti akan dapat memangkas waktu eksperimen dari berbulan-bulan bila dilakukan di bumi menjadi hanya beberapa minggu saja di luar angkasa.

Harapannya, penelitian ini dapat membantu menjaga kesehatan para astronot bila menjalani misi jangka panjang dan mendorong terciptanya pengobatan baru di Bumi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X