Jangan Sekadar Mudik, Mari Menilik Lagi Sejarah Nama Kampung Halaman

Kompas.com - 24/05/2019, 17:35 WIB
Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, Selasa (7/5/2019).KOMPAS.com/AKHDI MARTIN PRATAMA Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, Selasa (7/5/2019).

KOMPAS.com - Masyarakat Indonesia punya sebuah tradisi unik setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri tiba, yaitu mudik atau pulang kampung.

Jelang lebaran tahun ini, Kompas.com mengajak pembaca tidak hanya sekadar mudik untuk melepas kangen dengan keluarga tapi juga mengenal sejarah kampung halaman.

Salah satu cara mengenal kembali sejarah kampung halaman adalah dari nama daerah. Hal ini kerap disebut toponim atau nama geografi sebuah daerah.

Toponim sendiri adalah bidang keilmuah linguistik atau bahasa yang membahas tentang asal-usul penamaan sebuah wilayah. Umumnya, toponim berkaitan dengan fenomena alam, sejarah, mitos, legenda, mata pencaharian, dan kebudayaan daerah tersebut.

Baca juga: Jelang Mudik, Ini Jawaban Psikolog Hadapi Pertanyaan “Kapan Nikah?”

Asal-usul yang digunakan ini nantinya bertujuan untuk memudahkan identifikasi, komunikasi, dan informasi. Artinya, nama daerah diberikan sesuai apa yang menonjol di wilayah tersebut.

Misalnya saja, wilayah di Yogyakarta yang sebagian penduduknya di masa lalu bermata pencaharian sebagai pengrajin batik diberi nama Batikan.

Ini menunjukkan bahwa pola bahasa dari toponimi tergantung pada wilayah masing-masing. Meski, bisa jadi, nama tersebut tak lagi sesuai dengan keadaan masa kini.

Jadi, sudah siapkah Anda mudik sambil menilik kembali sejarah kampung?



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X