Jelang Mudik, Ini Jawaban Psikolog Hadapi Pertanyaan “Kapan Nikah?”

Kompas.com - 24/05/2019, 17:07 WIB
IlustrasiShutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com – Salah satu momok terbesar yang membuat banyak orang malas pulang kampung saat lebaran adalah pertanyaan “Kapan nikah?”. Pertanyaan ini memang sangat umum ditanyakan ketika mudik lebaran dan kondangan, dan sering membuat para muda-mudi Indonesia merasa serba salah bahkan dongkol.

Kompas.com pernah membahas mengenai fenomena “Kapan nikah?” ini dengan dua orang psikolog.

Menurut Astrid Wen, psikolog anak dan keluarga, serta theraplay practitioner dari Pion Clinician, kebiasaan orang Indonesia untuk tanya “Kapan nikah?” ada hubungannya dengan budaya kekeluargaan orang Indonesia.

“Jadi, semua orang ikut ngurusin saat ada satu orang belum menikah di usia yang cocok untuk menikah,” ujarnya.

Baca juga: Orang Indonesia dan Pertanyaan “Kapan Nikah?”

Namun, Astrid juga mengakui bahwa pertanyaan ini juga sering dilontarkan hanya untuk basa-basi saja.

Sementara itu, Rizqy Amelia Zein, asisten dosen Social and Personality Psychology dari Universitas Airlangga, berpendapat bahwa pertanyaan ini bisa dijelaskan dengan social comparison theory.

Untuk diketahui, social comparison theory menyebutkan bahwa harga diri (self-esteem) seseorang terbentuk ketika membandingkan diri dengan orang lain ini.

Harga diri rendah terbentuk ketika orang yang dibandingkan kondisinya lebih baik (upward comparison), sedangkan harga diri tinggi terbentuk orang yang dibandingkan dianggap lebih malang (downward comparison).

“Orang-orang yang suka menjelekkan orang lain dengan nanya rese atau kepo, sebenarnya melakukannya agar merasa nasib mereka lebih baik (sehingga harga diri mereka meningkat),” ujar Amel.

Baca juga: Bagaimana Pernikahan Ubah Kesehatan Fisik dan Mental, Menurut Sains

Lantas, bagaimanakah cara terbaik untuk menanggapi pertanyaan ini?

Nasihat pertama dari Astrid adalah untuk santai saja menanggapinya.

Pasalnya, kondisi belum menikah sendiri sebetulnya juga patut untuk disyukuri. Ketika belum menikah, Anda bisa fokus pada hal lain atau memberi kontribusi yang lebih besar pada masyarakat.

"Jadi ya dinikmati aja. Sebab, ketika kita lebih nyaman dengan diri kita sendiri, kita jadi sadar dan bisa menerima pertanyaan-pertanyaan seperti ini" ujarnya.

Akan tetapi, bila Anda merasa terganggu atau bahkan marah; maka berdiam diri, seperti merenung, berdoa atau bermeditasi, dapat dilakukan untuk mencari tahu mengapa Anda merasa terganggu oleh pertanyaan tersebut.

Ketika sudah tenang, tanyakan kepada Anda sendiri: Apakah Anda marah karena benar-benar tidak ada pasangannya? Apakah karena cara bertanya orang tersebut yang menyebalkan? Atau, apakah karena kita sudah lelah mencari-cari, tetapi tidak menemukan pasangan?

Astrid mengatakan, kalau sudah begitu, keluarkan amarah Anda pada saat me-time, bisa dengan pukul-pukul samsak, ikut kelas bela diri, atau sekadar kumpul-kumpul dengan teman-teman yang tidak menanyakan hal itu.

Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai fenomena “Kapan nikah?”, dampaknya pada kesehatan dan etika untuk melontarkannya, klik di sini.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X