Efek Gas Air Mata pada Tubuh dan Penanganannya

Kompas.com - 22/05/2019, 13:27 WIB
Petugas menembakan gas air mata saat membubarkan massa yang masih bertahan di depan kantor Bawaslu di kawasan Thamrin, Jakarta, Selasa (21/5/2019). ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAPetugas menembakan gas air mata saat membubarkan massa yang masih bertahan di depan kantor Bawaslu di kawasan Thamrin, Jakarta, Selasa (21/5/2019).

KOMPAS.com – Unjuk rasa di Jakarta pada Rabu (22/5/2019) diwarnai dengan gas air mata. Polisi melepaskan tembakan gas air mata untuk memukul mundur massa yang melakukan tindakan-tindakan anarkis.

Dilansir dari berbagai sumber, gas air mata sebetulnya ada bermacam-macam. Masing-masing memiliki efek toksikologisnya dan tingkat keparahannya sendiri. Namun, yang paling sering digunakan adalah o-chlorobenzylidene malononitrile atau CS.

Alastair Hay, profesor toksikologi lingkungan, menjelaskan kepada BBC 25 November 2011 bahwa otoritas biasanya menggunakan gas air mata untuk menghindari penggunaan senjata yang lebih fisik atau amunisi tajam.

Pasalnya, efek dari gas air mata pada dosis rendah biasanya hanya bersifat sementara.

Pakar analisis dari publikasi intelijen dan keamanan IHS Jane’s, Neil Gibson, menjelaskan bahwa gejala gas air mata biasanya dimulai 20-30 detik sejak paparan dan mereda 10 menit sejak keluar dari paparannya.

Baca juga: Lewat Google, Misteri Sumber Gas Terlarang CFC-11 Terpecahkan

Gejala gas air mata pada umumnya meliputi rasa perih dan terbakar pada membran mata, hidung dan paru-paru; produksi air liur, air mata dan ingus berlebih; serta sesak napas, sakit kepala dan mual.

Namun, beberapa jenis gas air mata, misalnya oleoresin capsicum (OC) yang biasa dikenal sebagai semprotan merica, bisa bercampur dengan air, keringat atau minyak dan berubah menjadi cairan asam yang menyakitkan.

Rohini J. Haar, M.D., M.P.H., seorang peneliti medis dan penasihat di Physicians for Human Rights, mengatakan kepada SELF, (gas air mata seperti OC) membuat kulit Anda terasa terbakar, dan ketika dihirup dapat menyebabkan luka pada saluran pernapasan dan paru-paru.

Bisakah menyebabkan kematian?

Haar menjelaskan bahwa gejala dari gas air mata seharusnya bersifat sementara, sekitar 20-30 menit. Namun, jika Anda tidak bisa keluar dari gas air mata, paparannya terlalu banyak, atau Anda memang rentan, gas air mata bisa menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius.

Pada orang yang memang memiliki asma, misalnya. Haar berkata bahwa mereka memang lebih sensitif terhadap gangguan pernapasan dan bisa mengalami hypoxia atau kondisi di mana seseorang tidak mendapat cukup oksigen ke dalam tubuh.

Baca juga: 35 Warga San Jose Keracunan Gas Klorin Saat Berenang, Apa Itu?

Terkadang, wadah gas air mata yang dilemparkan juga bisa menyebabkan luka serius. “Kami telah melihat tulang atau tengkorak yang patah akibat tertimpuk wadah gas air mata,” ujar Haar.

Hay pun sependapat dengan Haar. Dia berkata bahwa meskipun jarang terjadi, kematian akibat gas air mata bisa terjadi. Biasanya ketika dikombinasikan dengan faktor-faktor lain yang membatasi pernapasan, seperti  pembekukan oleh aparat keamanan atau sekadar tekanan fisik karena berlari.

Penggunaan gas air mata pada area yang sempit, seperti yang terjadi di jalanan Mohammed Mahmoud dekat Tahrir Square di Mesir pada 2011, juga dapat menyebabkan efek yang berkelanjutan karena paparannya menjadi lebih terkonsentrasi dan jangka waktunya menjadi lebih panjang.

Ketika pernapasan menjadi terganggu karena paparan gas air mata, Hay berkata bahwa seseorang bisa mengalami batuk-batuk parah yang mengeluarkan darah.

Bagaimana penanganannya?

J David Gatz, MD, dokter pengobatan darurat di Mercy Medical Center, berkata bahwa hal terpenting yang dapat Anda lakukan untuk meminimalisasi efek dari gas air mata adalah segera menjauh ke area yang terbebas dari gas air mata.

Gas ini, ujar Gatz, juga lebih berat dan akan segera turun ke tanah. Jadi, Anda harus segera pergi ke tempat yang lebih tinggi.

Baca juga: Pemilu Usai, Waktunya Move On dari Rivalitas dengan 5 Cara Ini

Setelah Anda tiba di tempat yang aman, cari air untuk membersihkan mata, kulit dan rambut. “Pada awalnya, air akan membuat efeknya lebih terasa, tetapi air dalam jumlah besar akan dapat membersihkannya,” ujar Haar.

Lalu, jika Anda bisa menemukan sabun, gunakanlah untuk membersihkan kulit dan rambut Anda dari partikel gas air mata.

Jangan lupa juga untuk segera mengganti pakaian karena partikel dapat menempel pada pakaian dan menyebabkan efek berkelanjutan.

Terakhir, jika Anda masih merasakan efek dari gas air mata 20-30 menit setelahnya, atau Anda mengalami iritasi mata atau paru-paru, segeralah meminta pertolongan medis.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber BBC,SELF
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ratusan Gajah Afrika Mati Mendadak, Ahli Konservasi Indonesia Ingatkan Soal Virus Herpes

Ratusan Gajah Afrika Mati Mendadak, Ahli Konservasi Indonesia Ingatkan Soal Virus Herpes

Fenomena
Fenomena Langka, Dua Planet Raksasa Menari Bersama di Luar Angkasa

Fenomena Langka, Dua Planet Raksasa Menari Bersama di Luar Angkasa

Fenomena
Kasus Corona Indonesia Tak Seburuk Prediksi, Diduga karena Vaksinasi

Kasus Corona Indonesia Tak Seburuk Prediksi, Diduga karena Vaksinasi

Kita
Umur Anjing Ternyata Lebih Tua dari Pemiliknya, Studi ini Jelaskan

Umur Anjing Ternyata Lebih Tua dari Pemiliknya, Studi ini Jelaskan

Fenomena
Mengapa Vaksinasi Berkaitan dengan Sistem Kekebalan Tubuh Manusia?

Mengapa Vaksinasi Berkaitan dengan Sistem Kekebalan Tubuh Manusia?

Oh Begitu
Studi Ungkap Cara Virus Corona Langsung Infeksi Sel Jantung Pasien Covid-19

Studi Ungkap Cara Virus Corona Langsung Infeksi Sel Jantung Pasien Covid-19

Fenomena
Harga Vaksin Corona Diperkirakan Rp 75.000 Per Orang, Kapan Siap?

Harga Vaksin Corona Diperkirakan Rp 75.000 Per Orang, Kapan Siap?

Oh Begitu
Ilmuwan Buktikan Lagi, Virus Corona Saat Ini Lebih Menular dan Beda dari Aslinya

Ilmuwan Buktikan Lagi, Virus Corona Saat Ini Lebih Menular dan Beda dari Aslinya

Fenomena
Seberapa Jauh Anjing Bisa Mencium dan Mendengar?

Seberapa Jauh Anjing Bisa Mencium dan Mendengar?

Prof Cilik
Vaksin Bikin Autis? 3 Mitos Vaksinasi Anak yang Tak Usah Dipercaya

Vaksin Bikin Autis? 3 Mitos Vaksinasi Anak yang Tak Usah Dipercaya

Kita
Hati-hati, Gangguan Gigi dan Mulut Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

Hati-hati, Gangguan Gigi dan Mulut Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

Oh Begitu
3 Nyamuk Penyebar Mosquito-borne Disease: Aedes Aegypti, Anopheles, dan Culex

3 Nyamuk Penyebar Mosquito-borne Disease: Aedes Aegypti, Anopheles, dan Culex

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Mengapa Banyak Virus pada Hewan Menular ke Manusia?

[VIDEO] Tanya Dokter: Mengapa Banyak Virus pada Hewan Menular ke Manusia?

Oh Begitu
Jangan Lupakan, Penularan Penyakit karena Nyamuk Masih Terus Terjadi

Jangan Lupakan, Penularan Penyakit karena Nyamuk Masih Terus Terjadi

Kita
Jamur Cordyceps Militaris Disinyalir Punya Antivirus, Apa Saja Manfaatnya?

Jamur Cordyceps Militaris Disinyalir Punya Antivirus, Apa Saja Manfaatnya?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X