Ilmuwan Ajari Kecerdasan Buatan Mengalami “Rasa Takut”, untuk Apa?

Kompas.com - 18/05/2019, 09:00 WIB
Program simulasi mengemudi yang mencatat respon rasa takut manusia untuk dipelajari kecerdasan buatan. Program simulasi mengemudi yang mencatat respon rasa takut manusia untuk dipelajari kecerdasan buatan.

KOMPAS.com —  Komputer selama ini dikenal dapat mengerjakan beragam aktivitas, termasuk menyelesaikan puzzle, mengolah data, hingga bermain game.

Namun, aktivitas tersebut dilakukan secara virtual sehingga tidak memiliki risiko yang sama seperti aktivitas di dunia nyata. Misalnya saja, ketika mengemudi di dunia nyata, satu kesalahan kecil dapat berujung pada tabrakan beruntun dengan kecepatan tinggi.

Sebaliknya, mengemudi secara virtual, meski punya risiko tabrakan, itu hanya ada di dalam komputer. Dengan kata lain, tidak ada dampak nyata dari aktivitas tersebut.

Untuk menghindari dampak pada aktivitas nyata, manusia memiliki sistem umpan balik fight-or-flight response. Ini adalah sebuah reaksi fisiologis yang ditandai dengan peningkatan denyut jantung, adrenalin tinggi, dan cucuran keringat.

Baca juga: CEO Facebook Akui Sedang Bangun Mesin Pembaca Pikiran

Dalam bahasa yang lebih sederhana, kita mengenalnya sebagai tanda "rasa takut" dan ancaman potensial.

Respons ini menjaga kita agar tetap waspada dan dapat keluar dari masalah yang tengah dihadapi.

Untuk meniru hal tersebut, peneliti dari Microsoft saat ini mencoba untuk mengajari kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sesuatu yang mirip dengan sensasi rasa takut tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan mereka kemampuan untuk mengenali risiko bahaya.

Para peneliti menaruh sensor pada jari manusia untuk merekam amplitudo denyut nadi mereka saat mengendalikan simulator mengemudi sebagai cara pengukuran "rasa takut" atau kaget.

Suatu algoritma dibentuk berdasarkan rekaman ini untuk mempelajari amplitudo denyut nadi pada momen tertentu sepanjang perjalanan dalam simulator. Algoritma ini kemudian digunakan untuk mengenali tanda "rasa takut" sebagai petunjuk bahaya dalam simulator mengemudi.

Hal ini menjadikan AI dapat berpikir: “Jika manusia merasa takut di belokan ini, pasti ada sesuatu yang salah.”

Para peneliti semula menganggap bahwa peningkatan denyut nadi ini dikenali AI sebagai prediktor jarak antara jalanan yang dilalui dan tembok sehingga mereka mengajari AI lain untuk mengenali langsung jarak tersebut.

Namun, ternyata AI yang diajari rasa takut memiliki performa yang lebih baik.

Emosi yang dimiliki manusia dapat membantu kita dalam belajar dan mengambil keputusan.

Berdasarkan studi ini, para peneliti menyimpulkan bahwa memberikan AI respons yang meniru emosi manusia dapat meningkatkan performanya sehingga lebih dekat dengan kemampuan manusia.

Baca juga: Perlukah Kita Takut Disaingi oleh Robot Cerdas?

Studi ini juga diharapkan dapat diaplikasikan pada kendaraan tanpa pengemudi agar dapat menentukan cara atau jalur yang ditempuh sehingga dapat mencegah penumpangnya merasa mabuk meski keamanannya tidak terganggu.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X