Berapa Batasan Konsumsi Kopi Harian, Menurut Sains?

Kompas.com - 17/05/2019, 15:05 WIB
Ilustrasi kopi dan gula karandaevIlustrasi kopi dan gula

KOMPAS.com – Bagi sebagian besar orang, kopi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Secangkir kopi di pagi hari dianggap sebagai kewajiban untuk mengawali aktivitas harian, sebagai pemulih energi selepas tidur semalaman.

Hingga saat ini, studi dan opini mengenai manfaat dan bahaya kopi, khususnya kafein yang dikandungnya masih berjalan dan berkembang. Namun, pertanyaan yang masih belum terjawab adalah, berapa cangkir kopi maksimal yang kita nikmati setiap harinya?

Berdasarkan studi terbaru yang dilakukan oleh University of South Australia, enam cangkir atau lebih kopi per hari justru berbahaya bagi kesehatan.

Jumlah tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung sekitar 22 persen.

Baca juga: Bukan Rasanya, Kesukaan Minum Kopi Ditentukan oleh Gen

Studi ini difokuskan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kafein dengan peningkatan tekanan darah, yang merupakan awal pemicu penyakit jantung. Studi ini juga bertujuan untuk menentukan batas atas konsumsi kopi maksimal harian.

“Banyak orang setuju bahwa minum kopi dalam jumlah banyak akan mengakibatkan perasaan gelisah, tempramental, bahkan mual dan muntah. Ini dikarenakan kafein membantu tubuh bekerja lebih keras dan lebih cepat, tapi juga menandakan bahwa tubuh sudah melampaui batas,” papar Elina Hypponen, peneliti yang terlibat dalam studi, seperti dilansir dari Science Daily, Jumat (10/5/2019).

“Untuk memelihara jantung dan tekanan darah dalam kondisi sehat, kita harus membatasi konsumsi kopi kurang dari enam cangkir sehari, karena berdasarkan data penelitian kita, enam cangkir merupakan titik batas dimana kafein dapat menyebabkan efek negatif,” imbuhnya.

Menggunakan data dari 347.077 partisipan dengan rentang usia 37-73 tahun, studi ini mengeksplorasi kemampuan gen yang bertanggung jawab atas metabolisme kafein, yakni CYP1A2.

Penelitian ini juga mengidentifikasi peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler sejalan dengan konsumsi kafein dan variasi genetik.

Hypponen menjelaskan bahwa meski pembawa gen CYP1A2 dengan variasi metabolisme cepat dapat menjalankan metabolisme kafein empat kali lebih cepat, namun tidak berarti mereka dapat mengonsumsi kafein lebih aman.

“Mengetahui batasan yang baik dan tidak bagi tubuh adalah kuncinya. Sebagaimana hal lain, semuanya memiliki batasan. Jika kita konsumsi berlebihan, maka kesehatan tubuh yang menjadi bayarannya,” pungkasnya.

Studi ini dipublikasikan di The American Journal of Clinical Nutrition.

Baca juga: Bagaimana Cara Membuat Kopi Tanpa Kafein Alias Kopi Decaf?

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X