Kompas.com - 23/04/2019, 18:06 WIB

KOMPAS.com – Kalau bicara mengenai kopi, tentu kata yang tidak bisa dilepaskan darinya adalah “kafein”. Namun, sebetulnya ada juga kopi tanpa kafein yang disebut kopi decaf. Walaupun tidak sepenuhnya bebas kafein, setidaknya mayoritas kafein telah dihilangkan pada kopi decaf.

Dilansir dari artikel Live Science, 21 April 2019, metode menghilangkan dari kafein yang pertama kali sukses secara komersial diciptakan pada 1905 oleh pedagang kopi Jerman Ludwig Roselius. Dia menggunakan bensin untuk menghilangkan kafein dari biji kopi.

Namun seperti yang kita ketahui sekarang, bensin tidak baik untuk dikonsumsi karena bersifat karsinogen atau menyebabkan kanker.

Sebagai gantinya, para perusahaan menggunakan zat-zat kimia lain, seperti etil assetat dan metilena klorida, untuk menghilangkan kafein dari kopi.

Pada saat ini, penggunaan metilena klorida masih kontroversial karena pada paparan zat ini pada tingkat yang tinggi bisa menjadi beracun dan menyebabkan kerusakan pada sistem saraf pusat. Akan tetapi, menurut badan makanan dan obat-obatan Amerika Serikat (FDA), residu metilena klorida yang kurang dari 0,001 persen masih aman.

Baca juga: Benarkah Minum Kopi Setelah Makan Durian Sebabkan Kematian?

Selain menggunakan bahan kimia, ada metode lain yang juga dapat menghilangkan kafein dari kopi. Disebut Swiss Water Process, metode yang baru digunakan secara komersial pada 1970-an ini menggunakan air untuk menghilangkan kafein.

David Kastle, seorang wakil presiden di Swiss Water Decaffeinated Coffee, menjelaskan bahwa dalam metode ini, biji kopi yang masih hijau dan belum dilakukan roasting direndam dalam air. Air menarik keluar komponen-komponen yang larut, seperti asam klorogenik, asam amino, sukrosa dan tentu saja kafein.

Kafein pada air kemudian difilter menggunakan karbon dan menyisakan cairan bebas kafein yang disebut ekstrak kopi hijau. Ekstrak ini ditambahkan ke biji kopi hijau yang masih mengandung kafein agar kafein pada biji berpindah ke ekstrak kopi hijau, dan membuat bijinya nyaris tanpa kafein.

Kastle menyebut bagian ini sebagai biji dan cairan yang mencari keseimbangan.

Hasilnya adalah kopi decaf yang kandungan kafeinnya sangat rendah. Secangkir kopi decaf kira-kira mengandung 2-15 miligram kafein. Bandingkan dengan kopi biasa yang mengandung 80-100 miligram kafein.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Oh Begitu
Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.