NASA Siapkan Misi Pendaratan Pertama Perempuan di Bulan

Kompas.com - 15/05/2019, 21:58 WIB
Juli 1969, astronot Amerika Serikat, Edwin Buzz Aldrin, terekam di permukaan Bulan dekat bendera AS dalam misi Apollo 11. Aldrin merupakan orang kedua yang berjalan di Bulan setelah Neil Armstrong.Hulton Archive/Arsip KOMPAS Juli 1969, astronot Amerika Serikat, Edwin Buzz Aldrin, terekam di permukaan Bulan dekat bendera AS dalam misi Apollo 11. Aldrin merupakan orang kedua yang berjalan di Bulan setelah Neil Armstrong.

KOMPAS.com - Sejak Neil Armstrong menginjakkan kakinya di Bulan beberapa dekade lalu, setidaknya telah ada 12 orang yang melakukan perjalanan ke satelit Bumi itu.

Seluruh astronot yang pernah menjalankan misi Bulan itu adalah laki-laki. Artinya, belum ada perempuan yang melakukan misi perjalanan ke Bulan.

Namun, sejarah baru akan terukir. Badan Antariksa AS ( NASA) mengumumkan rencana besar pada misi ke Bulan.

Merangkum dari video yang dijadikan keterangan pers, NASA menyebut akan mempercepat rencana ambisius ke bulan dalam lima tahun mendatang. Hal terbaru dalam misi itu adalah keikutsertaan astronot perempuan di dalamnya.

Baca juga: NASA Buktikan Ukuran Bulan Mengecil dan Menyusut, Apa Sebabnya?

NASA menegaskan, akan ada kursi di misi lunar 2024 khusus diperuntukkan bagi seorang perempuan yang nantinya akan berjalan pertama kali di Bulan.

Program ini menjadi salah satu pengejawantahan kesetaraan gender. Untuk itu, misi ini diberi nama dewi Yunani yang merupakan kembaran dewa Apollo, yaitu Artemis.

"Lima puluh tahun setelah Apollo, program Artemis akan membawa pria berikutnya dan perempuan pertama ke Bulan," kata Jim Bridenstine, administrator NASA dikutip dari CNN, Selasa (14/05/2019).

Tak hanya membawa perempuan untuk melakukan lompatan pertama ke Bulan, NASA juga berencana untuk membuat kemah di sana. Dalam hal ini, NASA berharap eksplorasi bulan akan membuat posisi AS lebih strategis pada bidang antariksa.

Meski begitu, dilansir dari Science Alert, Rabu (15/05/2019), banyak orang yang skeptis terhadap rencana ambisius ini. Pasalnya, rentangan waktu yang ditetapkan dianggap tidak realistis.

Selain itu, masalah pembiayaan program ini juga perlu dipertimbangkan. Misi ini juga memerlukan roket paling kuat dan pendekatan baru untuk sistem pendaratan di Bulan.

Namun, pihak NASA sendiri optimis dengan rencana ini. Jika semuanya berhasil, AS akan memiliki pos terdepan dalam perjalanan ke planet Mars.




Close Ads X