Angka Kematian Petugas KPPS Tinggi, Kemenkes Adakan Otopsi Verbal

Kompas.com - 13/05/2019, 17:36 WIB
Diskusi Publik bertajuk Membedah Persoalan Kematian Mendadak Petugas Pemilu dari Perspektif Keilmuan? di Sekretariat IDI, Jakarta, Senin (13/5/2019) Diskusi Publik bertajuk Membedah Persoalan Kematian Mendadak Petugas Pemilu dari Perspektif Keilmuan? di Sekretariat IDI, Jakarta, Senin (13/5/2019)

KOMPAS.com – Tingginya angka kematian petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pada pelaksanaan Pemilu 2019 saat ini memunculkan perhatian khusus, baik di publik maupun pemerintah.

Sayangnya, hal ini juga dibarengi oleh berseliwerannya informasi yang bersifat praduga dan spekulasi, tanpa ada dasar berita yang jelas atau metode yang mengikuti kaidah ilmiah.

Untuk mengatasi hal tersebut, saat ini Kementrian Kesehatan tengah mengumpulkan data rekam medis dan otopsi verbal terhadap para petugas anggota KPPS yang meninggal maupun sakit.

“Dengan adanya angka kematian dan kesakitan yang tinggi, kami menerbitkan surat edaran pemeriksaan penyebab kematian untuk yang sempat dirawat di rumah sakit, sedangkan yang di luar rumah sakit, dilakukan otopsi verbal,” terang Tri Hesti Widyastuti, Perwakilan Dirjen Pelayanan Kesehatan, Kementrian Kesehatan.

Baca juga: Ratusan Anggota KPPS Meninggal, Tak Tidur Bikin Tubuh Bak Orang Mabuk

Dijelaskan dalam diskusi publik bertajuk "Membedah Persoalan Kematian Mendadak Petugas Pemilu dari Perspektif Keilmuan" di Sekretariat Ikatan Dokter Indonesia (IDI), di Jakarta, Senin (13/5/2019), otopsi verbal adalah investigasi gejala dan penyebab kematian seseorang berdasarkan wawancara terhadap orang terdekat yang menyaksikan kematian.

Untuk saat ini, Hesti menjelaskan bahwa data yang diterima baru berasal dari 17 provinsi. 583 orang dinyatakan meninggal dunia, sedangkan 4.602 orang mengalami sakit.

“Dari angka kematian, yang paling tinggi berasal dari Jawa Barat, lalu Kalimantan Selatan. Sedangkan untuk angka kesakitan, terbanyak di DKI Jakarta, lalu Banten, Jawa Timur, dan Jawa Barat”, paparnya.

Berdasarkan data yang diperoleh Kementrian Kesehatan, angka kematian tertinggi terjadi pada petugas dengan rentang usia 50-59 tahun. Sementara itu, penyebab kematian tertinggi merupakan gagal jantung, stroke, dan infark miokard (serangan jantung akibat sumbatan pembuluh darah koroner), juga kecelakaan lalu lintas.

Kekurangan otopsi verbal

Otopsi verbal dilaksanakan karena banyaknya kejadian kematian yang tidak terjadi di rumah sakit dengan gejala yang tidak disaksikan oleh tenaga medis.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X