Kompas.com - 13/05/2019, 15:01 WIB
Walikota Kyoto, Daisaku Kodogawa menyatakan komitmen ambisius untuk mengurangi emisi karbon hingga 0 pada tahun 2050. Kompas.com/Yunanto Wiji UtomoWalikota Kyoto, Daisaku Kodogawa menyatakan komitmen ambisius untuk mengurangi emisi karbon hingga 0 pada tahun 2050.

KOMPAS.com - Walikota Kyoto, Daisaku Kodogawa menyatakan komitmen ambisius untuk mengurangi emisi karbon hingga 0 pada tahun 2050.

Dia menyatakannya di hadapan ilmuwan, akademisi, dan jurnalis yang hadir di Global Landscape Forum (GLF) yang diadakan di Kyoto International Conference Center pada Senin (12/5/2019).

"Saya berkomitmen mengurangi emisi Kyoto hingga nol pada tahun 2050. Ini komitmen jangka panjang dan bukan tanggung jawab saya sendiri. Tapi ini yang kita targetkan," kata Kodogawa.

Dia menjelaskan, Kyoto telah menunjukkan keberhasilan mengurangi emisi selama 20 tahun pembangunan kotanya. Dari tahun 1997 hingga 2016, konnsumsi teknologi Kyoto menurun sebesar 27,2 persen.

Baca juga: Peringatan Earth Hour, 4 Sumber Energi Ini Juga Bisa Selamatkan Bumi

Sementara dari tahun 2010 ke 2018, pemakaian energi terbarukan meningkat sebesar 4,3 kali lipat, dengan rincian energi matahari meningkat 10 kali lipat dan biomassa meningkat 1,7 kali lipat.

Berkembang sebagai kota wisata, Kyoto juga berhasil mengembangkan infrastruktur transportasi sehingga penggunaan mobil oleh turis menurun. Jumlah sampah yang dihasilkan Kyoto juga lebih rendah, yaitu 399 gram per orang per hari, dibandingkan kota lain Jepang 555 gram per orang per hari.

"Kami berkolaborasi dengan akademisi dan komunitas lokal," kata Kodogawa mengungkapkan strateginya untuk mewujudkan ambisinya.

Kelas gaya hidup ramah lingkungan untuk anak-anak telah diberikan pada 110.000 orang dan akan terus dilanjutkan. Pemerintah daerah juga bekerjasama dengan Kyoto University, misalnya dalam riset silikon karbida untuk efisiensi energi.

Meski Kyoto mendapat apresiasi, Jepang dikritisi dalam penggunaan energi karena ketergantungannya pada energi batubara sejak bencana nuklir Fukushima pada 2011.

Takeko Momoi dari Kiko Network Tokyo mengungkapkan, Jepang memang tidak menambang batubara tetapi mengimpor dari Australia dan Indonesia.

"Dibanding negara-negara di dunia, Jepang menjadi satu-satunya negara yang konsumsi energi dari batubaranya akan meningkat pada 2030, sebesar 26 persen. Ini buruk," ungkapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

Oh Begitu
Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Pemukiman

Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Pemukiman

Oh Begitu
Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Fenomena
China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

Fenomena
Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Oh Begitu
Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Fenomena
Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Fenomena
Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Kita
Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Fenomena
Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Kita
Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Oh Begitu
Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Fenomena
Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Oh Begitu
Rangkuman Gempa Signifikan Sepekan Terakhir, Apa Saja?

Rangkuman Gempa Signifikan Sepekan Terakhir, Apa Saja?

Fenomena
BPOM: Pfizer dan AstraZeneca Sudah Bisa untuk Booster Vaksin Covid-19 Jenis Lain

BPOM: Pfizer dan AstraZeneca Sudah Bisa untuk Booster Vaksin Covid-19 Jenis Lain

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.