Menelusuri Biodiversitas Urban di Cikapundung, Ini Temuan Peneliti

Kompas.com - 02/05/2019, 18:07 WIB
Teras Cikapundung sebagai bagian dari program Restorasi Sungai Cikapundung diresmikan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mudjiadi pada Sabtu (30/1/2016). Dokumentasi Pusat Komunikasi Publik Kementerian PUPRTeras Cikapundung sebagai bagian dari program Restorasi Sungai Cikapundung diresmikan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mudjiadi pada Sabtu (30/1/2016).

Oleh Endah Sulistyawati dan Dasapta Erwin Irawan

RISET biodiversitas di kawasan urban dan mudah dijangkau tidak kalah menarik dibanding riset serupa di daerah lereng pegunungan, pedalaman hutan, atau daerah yang tidak terjamah.

Salah satu contoh yang terkenal adalah cerita ahli ekologi Amerika Serikat Mark Erdmann yang menemukan ikan purba Coelacanth di Manado, Sulawesi Utara.

Suatu hari, pada September 1997, Mark dan istrinya berkunjung ke sebuah pasar di Manado. Di sana dia melihat sebuah spesies ikan aneh, yang kemudian diketahui sebagai salah satu ikan tertua di dunia. Ikan ini, seekor Coelacanth, bahkan diberi nama alias fosil hidup (living fosil). Temuan itu kemudian ditulis dalam sebuah makalah pendek yang terbit di Nature.

Dalam perkembangan berikutnya, kini selain ikan Coelacanth, ada banyak spesies ikan lain yang telah tercatat terancam punah dan harus dilindungi.

Spesies invasif

Dari Cikapundung, Bandung, kami juga punya cerita menarik tentang biodiversitas urban. Dari sekitar 335 spesies yang kami temukan di bantaran Sungai Cikapundung, 22 spesies (7%) di antaranya merupakan spesies invasif alias bukan spesies asli habitat di sana. Spesies ini mengganggu pola hidup spesies lainnya.

Kami juga menemukan ada pengurangan tutupan vegetasi dari hulu ke hilir sungai. Ini merupakan riset pertama untuk biodiversitas di bantaran sungai tersebut.

Pada 2017, kami bersama Keukeu Kaniawati Rosada dari Universitas Padjadjaran dan dua mahasiswa Tantra Rahmadia dan Meli Triana Devi, mengamati keanekaragaman ekosistem di bantaran (zona riparian) sungai Cikapudung. Hasilnya telah kami sampaikan di konferensi internasional di Semarang.

Dalam studi ini, kami memetakan/membagi Sungai Cikapundung menjadi 100 segmen observasi. Di setiap segmen, kami mengamati dalam kuadran berukuran 5x20 meter. Karena biodiversitas merupakan variasi dan variabilitas kehidupan di Bumi, kami mengukur variasi pada level genetik, spesies, dan ekosistem.

Temuan sekitar 335 spesies di Sungai Cikapundung itu berasal dari arah hulu hingga muaranya ke Sungai Citarum. Indeks diversitas dan kekayaan spesies umumnya tinggi di bagian hulu dan rendah di bagian hilir. Diversitas tanaman tak berkayu atau herba lebih tinggi dibanding perdu dan pepohonan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bumi Awal Dulu Punya Atmosfer yang Beracun, Ditutupi Lautan Magma

Bumi Awal Dulu Punya Atmosfer yang Beracun, Ditutupi Lautan Magma

Fenomena
Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Kita
Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac 'Aman'

Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac "Aman"

Fenomena
BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem 2 Hari Ini, Berikut Daftar Wilayahnya

BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem 2 Hari Ini, Berikut Daftar Wilayahnya

Fenomena
Kasus Covid-19 Global Tembus 60 Juta, Bagaimana Islandia Kendalikan Virus Corona dengan Sains?

Kasus Covid-19 Global Tembus 60 Juta, Bagaimana Islandia Kendalikan Virus Corona dengan Sains?

Fenomena
Jaga Imunitas, 5 Suplemen dan Vitamin untuk Ibu Hamil di Masa Covid-19

Jaga Imunitas, 5 Suplemen dan Vitamin untuk Ibu Hamil di Masa Covid-19

Oh Begitu
2 Buku Teori Evolusi Charles Darwin Hilang dari Perpustakaan Cambridge

2 Buku Teori Evolusi Charles Darwin Hilang dari Perpustakaan Cambridge

Oh Begitu
Langka, Ahli Temukan Burung Era Dinosaurus dengan Paruh Mirip Sabit

Langka, Ahli Temukan Burung Era Dinosaurus dengan Paruh Mirip Sabit

Oh Begitu
Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dikurangi, Epidemiolog Sarankan Ini

Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dikurangi, Epidemiolog Sarankan Ini

Oh Begitu
Evolusi Virus Bisa Gagalkan Vaksin Covid-19, Ini Cara Menghentikannya

Evolusi Virus Bisa Gagalkan Vaksin Covid-19, Ini Cara Menghentikannya

Oh Begitu
Masih Sepupu Manusia, Ditemukan Kerangka Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun

Masih Sepupu Manusia, Ditemukan Kerangka Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun

Fenomena
Gejala Kanker Mulut Mirip Sariawan, Begini Cara Mencegahnya

Gejala Kanker Mulut Mirip Sariawan, Begini Cara Mencegahnya

Kita
Lonjakan Kasus Covid-19 Diprediksi Tinggi, Ini Strategi Hadapi Rumah Sakit Penuh

Lonjakan Kasus Covid-19 Diprediksi Tinggi, Ini Strategi Hadapi Rumah Sakit Penuh

Oh Begitu
Mitos atau Fakta: Seledri Tingkatkan Kesehatan Seksual Pria

Mitos atau Fakta: Seledri Tingkatkan Kesehatan Seksual Pria

Kita
Studi Baru: Mutasi Tak Membuat Virus Corona Menyebar Lebih Cepat

Studi Baru: Mutasi Tak Membuat Virus Corona Menyebar Lebih Cepat

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X