Kompas.com - 30/04/2019, 18:02 WIB
ilustrasi langit berawan ilustrasi langit berawan

KOMPAS.com - Apa yang Anda pikirkan ketika memandang langit dan melihat ada awan di sana? Mungkin sebagian dari Anda akan berimajinasi tentang bentuk awan.

Namun, beberapa orang juga punya pertanyaan mendasar tentang awan, yaitu mengapa ia tak jatuh ke Bumi?

Padahal, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bumi memiliki gaya tarik yang disebut gravitasi. Gaya tarik ini membuat segala benda yang dilemparkan ke atas akan jatuh ke bawah atau permukaan Bumi.

Lalu, apa yang membuat awan spesial hingga tetap melayang dan tak jatuh ke permukaan Bumi?

Baca juga: Bak Lukisan, Begini Penampilan Awan di Planet Jupiter

Keistimewaan awan salah satunya berasal dari material pembentuknya.

Awan terbentuk ketika udara hangat dan lembap naik melalui atmosfer yang lebih rendah. Setelah itu udara akan mengembang dan mendingin serta beberapa di antaranya akan mengembun menjari tetesan air sangat kecil.

Tetesan kecil inilah yang nantinya berkumpul dan membentuk awan.

Ukuran tetesan kecil tersebut sangat kecil hingga sulit untuk jatuh. Ini mirip dengan partikel debu yang melayang di bawah sinar matahari yang menerobos celah-celah jendela.

Pertikel debu itu tidak jatuh ke tanah, bukan? Bahkan, mereka tidak hanya berputar melayang di udara.

Merangkum dari Scientific American, ahli meteorologi senior di University Corporation for Atmospheric Research, Douglas Wesley juga mengatakan bahwa gerakan vertikal ke atas di atmosfer juga berkontribusi membuat awan mengambang.

Gerakan vertikal ini terjadi karena udara mendapatkan panas. Hal ini mampu menahan gaya gravitasi Bumi hingga awan tidak jatuh.

Bahkan, dari sudut pandang di Bumi, kita melihat awan tampak melayang-layang di langit.

Namun, jika sudah tidak panas lagi, seperti malah hari atau sinar mentari hanya sedikit, tetesan air di awan akan mengembun dan membentuk kabut. Ini mengapa kita biasanya tidak melihat awan pada malam hari atau di area pegunungan.

Biasanya ketika udara mendingin, awan berubah menjadi kabut, embun, dan juga hujan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jangan Abaikan Jamur di Makanan, Berisiko Sebabkan Penyakit Termasuk Kanker

Jangan Abaikan Jamur di Makanan, Berisiko Sebabkan Penyakit Termasuk Kanker

Oh Begitu
Konten TikTok Pembukaan Persalinan Dinilai Pelecehan, IDI Diminta Beri Sanksi Tegas

Konten TikTok Pembukaan Persalinan Dinilai Pelecehan, IDI Diminta Beri Sanksi Tegas

Oh Begitu
Perangi Pemanasan Global, Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia

Perangi Pemanasan Global, Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia

Oh Begitu
BMKG: Siklon Tropis Surigae Tak Memengaruhi Cuaca Jabodetabek

BMKG: Siklon Tropis Surigae Tak Memengaruhi Cuaca Jabodetabek

Fenomena
5 Menu Sahur yang Menjaga Tubuh Tetap Berenergi Selama Puasa

5 Menu Sahur yang Menjaga Tubuh Tetap Berenergi Selama Puasa

Oh Begitu
Tanpa Disadari, Partikel Plastik Ada di Udara yang Kita Hirup

Tanpa Disadari, Partikel Plastik Ada di Udara yang Kita Hirup

Oh Begitu
Okultasi Mars di Malam Ramadhan, Catat Waktunya di Wilayah Indonesia

Okultasi Mars di Malam Ramadhan, Catat Waktunya di Wilayah Indonesia

Fenomena
Daftar Wilayah Indonesia yang Bisa Saksikan Okultasi Mars oleh Bulan Hari Ini

Daftar Wilayah Indonesia yang Bisa Saksikan Okultasi Mars oleh Bulan Hari Ini

Fenomena
Sembelit Selama Puasa, Kenali Tipe, Gejala Sembelit hingga Penyebabnya

Sembelit Selama Puasa, Kenali Tipe, Gejala Sembelit hingga Penyebabnya

Kita
Daftar Wilayah Waspada Banjir di Indonesia, dari Kalimantan hingga Papua

Daftar Wilayah Waspada Banjir di Indonesia, dari Kalimantan hingga Papua

Fenomena
11 Fenomena Hiasi Langit Indonesia Selama Bulan Ramadhan, Catat Jadwalnya

11 Fenomena Hiasi Langit Indonesia Selama Bulan Ramadhan, Catat Jadwalnya

Fenomena
Kekerasan Perawat di Palembang, Ini Sikap Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Kekerasan Perawat di Palembang, Ini Sikap Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Oh Begitu
Puasa Pasien Pasca-Covid, Ahli Ingatkan Pentingnya Konsumsi Air hingga Kekebalan

Puasa Pasien Pasca-Covid, Ahli Ingatkan Pentingnya Konsumsi Air hingga Kekebalan

Oh Begitu
Vaksin Johnson & Johnson akan Ditinjau CDC, Setelah Laporan Pembekuan Darah

Vaksin Johnson & Johnson akan Ditinjau CDC, Setelah Laporan Pembekuan Darah

Oh Begitu
Monkeydactyl, Dinosaurus Terbang dari China yang Bisa Panjat Pohon

Monkeydactyl, Dinosaurus Terbang dari China yang Bisa Panjat Pohon

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X