Alasan Para Peneliti Ngotot Mencari Spesies Baru di Indonesia

Kompas.com - 25/04/2019, 18:33 WIB
Plt. Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, R. Hendrian menjelaskan mengenai eksplorasi dan identifikasi spesies tumbuhan baru yang dilakukan oleh Kebun Raya Bogor. Plt. Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, R. Hendrian menjelaskan mengenai eksplorasi dan identifikasi spesies tumbuhan baru yang dilakukan oleh Kebun Raya Bogor.

KOMPAS.com – Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati terbesar di dunia, dengan kekayaan flora dan fauna yang dimilikinya.

Dengan status tersebut, apakah eksplorasi untuk pencarian spesies baru masih penting untuk dilakukan?

“Pengungkapan jenis baru tumbuhan berkontribusi penting dalam konservasi tumbuhan, dan memberikan pemahaman baru tentang keberagaman jenis tumbuhan Indonesia serta sumberdaya yang kita miliki,” jelas Plt. Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, R. Hendrian.

“Jika kita tidak bisa membuktikan keberadaan spesies secara tepat angkanya, maka kita tidak boleh mengklaim Indonesia punya kekayaan hayati”, tambahnya.

Hendrian juga menjelaskan bahwa keanekaragaman hayati bersifat dinamis, di mana saat ini angkanya terancam berkurang akibat kepunahan yang tidak sebanding dengan spesies yang ditemukan.

Baca juga: Riwayat Ilmu di Indonesia dalam “Belenggu Ilmuwan & Ilmu Pengetahuan”

Penelitian akan spesies baru dapat memberikan nilai strategis yakni memberikan informasi yang dapat digunakan untuk pelestarian spesies potensial yang belum ditemukan.

Sebagai bentuk nyata dari tanggung jawab ini, Kebun Raya Bogor hingga kini tetap aktif melakukan ekspedisi dan penelitian untuk mengungkap spesies-spesies tumbuhan yang masih belum terjamah dan teridentifikasi.

Namun demikian, terdapat kendala dan kesulitan yang dihadapi oleh para peneliti dalam menjalankan tugas ini.

“Saat ini, kita seolah kejar-kejaran antara upaya pelestarian dengan biodiversity loss (kehilangan biodiversitas) akibat deforestasi, overharvesting (panen berlebihan), atau penyebab lain seperti global warming (pemanasan global), yang tentunya menjadi masalah”, jelas Hendrian.

Di sisi lain, upaya pelestarian juga membutuhkan identifikasi spesies baru serta pencarian lokasi yang menjadi habitat asli spesies tersebut.

Identifikasi spesies baru sendiri bukanlah hal yang mudah, terutama di bidang botani.

Saat ini, pengidentifikasian spesies baru tumbuhan bergantung pada karakter morfologinya, dilengkapi dengan uji biomolekuler sebagai penentu akhir apabila menemukan kebuntuan.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X