Perjalanan Kadek Arimbawa Mengobati Kecemasan Diri lewat Seni

Kompas.com - 24/04/2019, 16:06 WIB
Kadek Arimbawa melukis, membuat topeng serta patung di Rumah Berdaya Denpasar, komunitas orang dengan gangguan jiwa yang didirikan oleh dr I Gusti Rai SpKJ, spesialis kejiwaan dari Bali. Yunanto Wiji Utomo/Kompas.comKadek Arimbawa melukis, membuat topeng serta patung di Rumah Berdaya Denpasar, komunitas orang dengan gangguan jiwa yang didirikan oleh dr I Gusti Rai SpKJ, spesialis kejiwaan dari Bali.

KOMPAS.com - Selfie-selfie di depan labu kuning dan polka dot karya Yayoi Kusama menghiasi instagram orang Indonesia usai pamerannya di Jakarta. Namun tak banyak orang tahu bahwa Indonesia juga punya seniman berpotensi yang berlatar belakang seperti Yayoi, memiliki masalah mental dan akhirnya memilih seni sebagai jalan dan cara untuk hidup.

Salah satu orang yang berjuang mengatasi masalah mental lewat seni adalah I Kadek Arimbawa.

Sejak 2016, dia melukis, membuat topeng serta patung di Rumah Berdaya Denpasar, komunitas orang dengan gangguan jiwa yang didirikan oleh dr I Gusti Rai SpKJ, spesialis kejiwaan dari Bali. Meski ekspresi seninya beragam, Kadek merasa bahwa koran bekas adalah medium yang paling pas baginya.

"Koran bekas itu seperti saya. Barang yang dibuang. Koran bekas harus diubah menjadi obyek yang menarik agar dilirik dan berharga, sama seperti saya yang harus berjuang," ungkap Kadek saat ditemui di sela kunjungan lapangan tematik bersama Menteri Kesehatan Nila F Moeloek di Bali, Rabu (24/4/2019).

Baca juga: Pusat Kanker Terbesar di Bali Dibangun, Beroperasi Mulai 2020

Kadek menderita kecemasan berlebihan sejak 2008. Dia kerap merasa pusing, enggan berinteraksi dengan orang lain, serta sering merasa bahwa orang tengah membicarakan dan menertawakan dirinya setiap kali berada dalam kerumunan. Dia mendeskripsikan masalah kejiwaannya sebagai baper (bawa perasaan) yang akut dan ekstrem.

Awalnya, dia tak begitu menggubris masalah itu. Dia mencoba menenangkan diri dengan menemui balian (spiritualis adat Bali), beribadah di Pura, serta berobat ke dukun yang direkomendasikan ibunya.

Sekali-kali, dia ke puskesmas, tetapi tak berani mengutarakan masalah yang sebenarnya. Hanya mengatakan pusing dan akhirnya hanya mendapat obat paracetamol.

"Tidak puas akhirnya saya dengan obat pusing," katanya. "Tapi waktu itu juga tidak tahu mau ke mana. Saya cuma stabil 2 minggu, lalu kumat lagi seminggu. Sering sekali. Yang saya lakukan waktu itu cuma coba ngelawan aja, kayak jangan terlalu mikir negatif," tutur lelaki berusia 27 tahun itu.

Dia baru memberanikan diri mengungkap masalahnya ke dokter pada tahun 2014. Dia sedang kuliah semester kedua saat itu. Saat itu, frekuensi kumatnya semakin sering. Dia mengurung diri di kamar hampir selama 2 minggu, makan sesekali, dan tak mandi. Hubungan dengan kakak kandungnya pun tak rukun.

Baca juga: Waspadai Gangguan Kecemasan Jika Mengalami 7 Tanda Ini

Rujukan dokter puskesmas ke rumah sakit jiwa di Bali menjadi titik balik Kadek. Dia mulai menjalani perawatan dengan minum obat setiap hari hingga kini. Tahun 2016 akhir, dia datang ke kegiatan seni di Batu Bulan, Bali, dan bertemu seniman yang punya perhatian pada masalah kejiwaan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X