Berwisata ke Alam Secara Bertanggung Jawab, Bagaimana Caranya?

Kompas.com - 22/04/2019, 16:05 WIB
Talkshow bertajuk Our Forests & Why Responsible Travel Matters? diselenggarakan Greenpeace Indonesia di Jakarta, Sabtu (20/4/2019).Julio Talkshow bertajuk Our Forests & Why Responsible Travel Matters? diselenggarakan Greenpeace Indonesia di Jakarta, Sabtu (20/4/2019).

KOMPAS.com – Alam terbuka sekarang ini menjadi destinasi wisata yang sangat populer, khususnya di kalangan millenial, baik para pecinta alam maupun yang sekadar mencari spot foto untuk media sosial.

Namun, tidak jarang aktivitas malah merusak alam itu sendiri.

Masih cukup banyak wisatawan yang tidak bertanggung jawab dengan meninggalkan sampah, menuliskan sesuatu dengan goresan pada pohon, mencoreti batuan sekitar, atau merusak hutan dengan membuka jalan secara berlebihan.

“Hal seperti itu menurutku agak konyol”, ungkap Lala Karmela, musisi sekaligus wisatawan yang menjadi pembicara dalam acara bincang-bincang bertajuk “Our Forests and Why Responsible Travel Matters” yang diselenggarakan Greenpeace Indonesia di Jakarta, Sabtu (20/4/2019).

Baca juga: Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut Saat Traveling

Lala menyayangkan perilaku seperti ini masih sering dijumpai. Untuk itu, dia berbagi tips yang bisa dilakukan saat berwisata ke alam terbuka, seperti mengurangi barang bawaan, terutama yang berbahan plastik; memerhatikan kebersihan setelah meninggalkan lokasi; tidak meninggalkan apapun kecuali jejak dan juga menghormati aktivitas hewan sekitar.

“Jika kita rasa bisa melakukan hal yang baik, jangan ragu”, jelasnya.

Meski demikian, Lala menyarankan wisatawan untuk tetap mengunjungi alam terbuka, untuk menyadari dan mensyukuri kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia.

“Aku lebih prefer ke alam sebagai penyerahan diri pada Pencipta, mengelilingi diri dengan ciptaan Dia”, ungkapnya.

“Setelah aku kembali ke perkotaan, rasanya berenergi dan semua permasalahan di Jakarta jadi enggak terlalu berarti”, ujarnya.

Pesan senada juga disampaikan oleh Annisa Rahmawati, Forest Campaigner Greenpeace Indonesia, yang juga hadir sebagai pembicara.

Annisa menekankan untuk mengubah pola pikir kita selama ini terhadap alam, terutama hutan.

Hutan berperan untuk meregulasi iklim, termasuk hujan, badai, oksigen, dan lainnya”, jelasnya.

Saat ini, hutan Indonesia mengalami deforestasi dalam skala besar, terutama karena alih guna lahan. Hal ini tentunya mengancam keanekaragaman hayati, terutama biota endemik yang terancam punah.

Sayangnya, permasalahan yang terjadi di kawasan hutan Indonesia masih tidak menjadi perhatian bagi masyarakat perkotaan.

“Kita harus merasa bahwa seluruh Bumi adalah rumah kita, jadi kita bertanggung jawab untuk mengurus dan menjaganya”, tutup Annisa.




Close Ads X