Kompas.com - 26/03/2019, 20:06 WIB
Astronot asal Belanda Andre Kuipers melambaikan tangan setelah mendarat di Dzhezkazgan pada 1 Juli 2012. AFP/MIKHAIL METZELAstronot asal Belanda Andre Kuipers melambaikan tangan setelah mendarat di Dzhezkazgan pada 1 Juli 2012.

KOMPAS.com - Seperti cahaya, matahari juga mengeluarkan gelombag elektromagnetik yang disebut dengan sinar UV. Pada level tertentu, gelombang ini baik untuk tubuh.

Namun, jika tubuh menyerap terlalu banyak radiasi dari sinar UV bisa menimbulkan efek merusak bagi DNA hingga memicu kanker kulit.

Untuk meghindari efek merusak itu, kebanyakan orang menggunakan tabir surya. Namun, kemudian yang menjadi pertanyaan bagaimana dengan para astronot?

Tinggal di luar angkasa berarti lebih dekat dengan matahari. Apalagi beberapa astronot melakukan spacewalk hingga berjalan di bulan yang tidak memiliki penghalang ozon.

Baca juga: NASA: Perjalanan Antariksa Bikin Para Astronot Terserang Virus Herpes

Artinya, tempat kerja para astronot itu penuh dengan radiasi ulraviolet. Lalu, apakah mereka juga membutuhkan tabir surya?

Tapi Anda bisa tenang, Neil Armstrong maupun koleganya, tak perlu tabir surya untuk menghalau radiasi UV. Mereka terlindungi oleh pakaian luar angkasa yang dikenakan.

Sebagai informasi, pakaian antariksa dibuat dengan kain tebal yang bisa menghalagi sinar UV. Pakaian itu juga dilengkapi dengan helm tembus pandang.

Merangkum dari How Stuff Works, Selasa (26/03/2019), untuk melindungi kepala astronot dari sinar UV, helm itu dibuat menggunakan polycarbonate yang distabilkan ultraviolet.

Dengan peralatan serba canggih ini, para astronot tidak lagi memerlukan tabir surya.

Meski begitu, ada sebuah kasus astronot yang mengalami sengatan matahari pada tahun 1963. Hal itu didapatkan oleh salah seorang kru Gemini 9 ketika bekerja di bagian luar pesawat antariksanya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Pap Smear, Prosedur untuk Mendeteksi Kanker Serviks

Mengenal Pap Smear, Prosedur untuk Mendeteksi Kanker Serviks

Kita
Perbedaan Bioma Stepa dan Sabana

Perbedaan Bioma Stepa dan Sabana

Oh Begitu
Cumi-cumi yang Berenang di Laut Terdalam di Dunia Ditemukan di Filipina

Cumi-cumi yang Berenang di Laut Terdalam di Dunia Ditemukan di Filipina

Oh Begitu
Seismograf, Penemuan Alat Deteksi Gempa yang Pertama Kali Digunakan di China

Seismograf, Penemuan Alat Deteksi Gempa yang Pertama Kali Digunakan di China

Oh Begitu
Mengapa Letusan Gunung Berapi Tonga Sangat Besar dan Menimbulkan Tsunami? Ahli Jelaskan

Mengapa Letusan Gunung Berapi Tonga Sangat Besar dan Menimbulkan Tsunami? Ahli Jelaskan

Fenomena
Mengenal Egg Freezing, Prosedur yang Dijalani Luna Maya untuk Memiliki Anak

Mengenal Egg Freezing, Prosedur yang Dijalani Luna Maya untuk Memiliki Anak

Oh Begitu
Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Oh Begitu
Panda Hanya Makan Bambu, Mengapa Tubuh Panda Tetap Besar?

Panda Hanya Makan Bambu, Mengapa Tubuh Panda Tetap Besar?

Oh Begitu
Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Fenomena
Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Oh Begitu
NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

Fenomena
Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Oh Begitu
Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

Oh Begitu
Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.