Misteri Tubuh Manusia, Kenapa Menguap Bisa Menular?

Kompas.com - 15/03/2019, 12:55 WIB
Salah satu siswa menguap di sela upacara bendera pada hari pertama masuk sekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 243 Palembang, Sumatera Selatan, Senin (16/7). Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2018-2019 dimulai secara serentak di Indonesia pada Senin 16 Juli. ANTARA FOTO/Feny Selly Salah satu siswa menguap di sela upacara bendera pada hari pertama masuk sekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 243 Palembang, Sumatera Selatan, Senin (16/7). Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2018-2019 dimulai secara serentak di Indonesia pada Senin 16 Juli.

KOMPAS.com - Tahukah Anda, setiap tanggal 15 Maret diperingati sebagai Hari Tidur Sedunia atau World Sleep Day?

World Sleep Day adalah acara tahunan yang dibentuk dan diselenggarakan Komite Tidur Seduni (World Sleep Society) yang sebelumnya bernama World Association of Sleep Medicine sejak 2008.

Melalui situs resminya, World Sleep Society ingin mengajak masyarakat luas menangani masalah-masalah terkait tidur, termasuk pemakaian obat, pendidikan, aspek sosial, dan mengemudi.

Program ini bertujuan untuk mengurangi beban masalah tidur pada masyarakat melalui pencegahan dan pengelolaan gangguan tidur yang lebih baik.

Baca juga: Misteri Tubuh Manusia, Alasan Kenapa Bunyi Kentut Berbeda

Nah, salah satu hal yang berkaitan dengan tidur adalah menguap sebagai tanda kita mengantuk. Pernahkah Anda memperhatikan mengapa saat orang menguap, orang di sebelahnya akan ikut menguap?

Untuk itu, Misteri Tubuh Manusia kali ini akan membahas tentang mengapa menguap itu menular?

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 31 Agustus 2017 mengungkap bagaimana fenomena itu bisa terjadi.

Peneliti menyebut jika perilaku tersebut muncul karena adanya aktivitas di bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi motorik.

Untuk mempelajari apa yang terjadi di otak seseorang saat melihat orang lain menguap, para peneliti melakukan pengamatan terhadap 36 orang dewasa.

Mereka diminta untuk menonton video orang lain yang sedang menguap. Dengan menggunakan stimuli magnetik transkranial (TMS), para peneliti lalu mengukur aktivitas otak partisipan selama percobaan.

Dalam satu percobaan, orang-orang diminta untuk mencoba dan menahan menguap saat melihat video orang yang menguap. Pada percobaan lain, para peserta diberi instruksi yang sama, tetapi peneliti juga menambahkan arus listrik ke kulit kepala para partisipasan tersebut.

Arus ini dimaksudkan untuk merangsang korteks motorik yang diperkirakan bisa mengendalikan menguap.

Selama eksperimen, peserta juga diminta untuk memperkirakan keinginan mereka untuk menguap.

Hasilnya, peneliti menemukan jika kecenderungan seseorang untuk meniru menguap ini berkaitan dengan tingkat aktivitas otak di korteks motor seseorang.

Semakin banyak aktivitas di daerah tersebut, maka kecenderungan seseorang untuk menguap semakin meningkat.

Hal ini terbukti ketika arus listrik dialirkan ke daerah tersebut. Dorongan untuk menguap turut meningkat.

Selanjutnya, para peneliti juga menemukan bahwa hanya sebagian yang sukses menolak keinginan untuk menguap.

Saat partisipan diminta untuk menolak menguap, dorongan untuk menguap justru naik.

"Dengan kata lain dorongan untuk menguap meningkat seiring dengan keinginan diri sendiri untuk mencoba menghentikan aktivitas menguap itu," kata Georgina Jackson, profesor neuropsikologi kognitif di Universitas of Nottingham Inggris yang terlibat dalam penelitian ini seperti dikutip Live Science, Kamis (31/8/2017).

Baca juga: Misteri Tubuh Manusia, Kenapa Kita Menutup Mata Saat Bersin?

Peneliti juga menyebut jika perilaku menguap yang menular itu merupakan jenis echophenomenon.

Dengan kata lain, itu adalah perilaku meniru orang lain secara otomatis. Echophenomena sendiri ada bermacam jenisnya, termasuk di antaranya adalah echolalia atau meniru kata-kata seseorang dan echopraxia atau meniru tindakan seseorang.

Temuan lain juga menunjukkan jika menguap yang menular ternyata bukan hanya terjadi pada manusia. Hewan lain termasuk anjing dan simpanse juga rentan mengalami fenomena tersebut.



Close Ads X