Peneliti Inggris Cari Sebab Letusan Gunung Agung Pakai Citra Satelit

Kompas.com - 15/02/2019, 18:33 WIB
Cahaya magma dalam kawah Gunung Agung terpantul pada abu vulkanis ketika diabadikan dari Desa Datah, Karangasem, Bali, Jumat (29/6). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat terjadinya erupsi Gunung Agung dengan tinggi kolom abu mencapai 2.000 meter namun status gunung tersebut masih pada level siaga. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/SPt/18.ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana Cahaya magma dalam kawah Gunung Agung terpantul pada abu vulkanis ketika diabadikan dari Desa Datah, Karangasem, Bali, Jumat (29/6). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat terjadinya erupsi Gunung Agung dengan tinggi kolom abu mencapai 2.000 meter namun status gunung tersebut masih pada level siaga. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/SPt/18.

KOMPAS.com - Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Universitas Bristol, Inggris ungkap hasil riset ilmiah, mengapa Gunung Agung di Bali meletus pada November 2017, setelah lebih 50 tahun mengalami dormansi.

Temuan yang diterbitkan di jurnal Nature Communications ini dapat memiliki implikasi penting untuk meramalkan letusan di masa depan di daerah tersebut.

Salah satu yang terpenting adalah, ditemukannya bukti geofisika, kemungkinan sistem pipa vulkanik yang saling terhubung antara gunung Agung dengan gunung Batur.

Letusan Gunung Agung sebelumnya pada tahun 1963 menewaskan hampir 2.000 orang dan diikuti oleh letusan-letusan kecil di gunung berapi tetangganya, Gunung Batur.

Karena peristiwa masa lalu ini adalah salah satu letusan gunung berapi paling mematikan di abad ke-20, upaya besar dikerahkan oleh komunitas ilmuwan untuk memantau dan memahami bangunnya kembali aktivitas Gunung Agung.

Baca juga: Erupsi Gunung Agung, Seberapa Besar Dampaknya pada Cuaca?

Dalam erupsi terbaru November 2017, dua bulan sebelum letusan, tiba-tiba terjadi peningkatan sejumlah gempa kecil di sekitar gunung berapi yang tidur selama 54 tahun itu. Peristiwa itu memicu evakuasi sekitar 100.000 orang.

Citra Satelit Sentinel-1

Tim ilmuwan dari Fakultas Ilmu Kebumian Universitas Bristol, yang dipimpin oleh Dr. Juliet Biggs menggunakan citra satelit Sentinel-1 yang disediakan oleh Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk memantau deformasi tanah di Gunung Agung.

Biggs menjelaskan, "Dari pemantauan jarak jauh, kami dapat memetakan setiap gerakan tanah, yang mungkin merupakan indikator bahwa magma segar bergerak di bawah gunung berapi."

Dalam studi terbaru, yang dilakukan bekerja sama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Indonesia (PVMBG), tim ini mendeteksi kenaikan sekitar 8-10 cm di sisi utara gunung berapi selama periode aktivitas gempa bumi yang hebat.

Sistem Pipa yang Terhubung

Dr. Fabien Albino dari Bristol School of Earth Sciences menambahkan, "Yang mengejutkan adalah kami memperhatikan bahwa baik aktivitas gempa dan sinyal deformasi tanah terletak lima kilometer dari puncak, yang berarti bahwa magma bergerak ke samping serta vertikal ke atas."

"Studi kami memberikan bukti geofisika pertama bahwa Gunung Agung dan Gunung Batur mungkin memiliki sistem pipa vulkanik yang terhubung," imbuhnya.

Dengan temuan tersebut, tim peneliti mengklaim bahwa penelitian ini sangat penting untuk prediksi ke depan.

Baca juga: 4 Fakta Gunung Agung yang Perlu Diketahui

Tim peneliti menyebutkan, "Temuan ini memiliki implikasi penting bagi peramalan letusan dan bisa menjelaskan terjadinya letusan simultan seperti pada tahun 1963."

Studi tersebut didanai oleh Pusat Pengamatan dan Pemodelan Gempa Bumi, Gunung Berapi, dan Tektonik (COMET), sebuah pusat penelitian terkemuka dunia yang berfokus pada proses tektonik dan vulkanik dengan menggunakan teknik observasi bumi.



Close Ads X