Kompas.com - 02/12/2017, 17:20 WIB
Erupsi Gunung Agung terlihat dari Kubu, Karangasem, Bali, 26 November 2017. Gunung Agung terus menyemburkan asap dan abu vulkanik dengan ketinggian yang terus meningkat, mencapai ketinggian 3.000 meter dari puncak. Letusan juga disertai dentuman yang terdengar sampai radius 12 kilometer. AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKAErupsi Gunung Agung terlihat dari Kubu, Karangasem, Bali, 26 November 2017. Gunung Agung terus menyemburkan asap dan abu vulkanik dengan ketinggian yang terus meningkat, mencapai ketinggian 3.000 meter dari puncak. Letusan juga disertai dentuman yang terdengar sampai radius 12 kilometer.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Saat erupsi, Gunung Agung menyemburkan beragam senyawa, termasuk gas Sulfur Dioksida (SO2)dan karbon Dioksida (CO2).

Diberitakan Kompas.com pada Rabu (28/11/2017), Kasubid Mitigasi Wilayah Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG) Devy Kamil, mengutarakan bahwa semburan gas SO2 dan CO2 tercatat sudah mencapai ribuan ton.

"Jika dirata-ratakan, sejak terjadinya letusan freatik pada Selasa (21/11/2017), setiap harinya terdapat 3.000 ton SO2 yang disemburkan. Aspek Geokimia SO2 2.000-3.000 per hari. Hal ini mengindikasikan posisi magma di kedalaman dangkal," katanya.

Devy menambahkan gas SO2 dapat terekam apabila magma telah sampai ke permukaan. Terekamnya lontaran gas dalam jumlah besar juga mengindikasikan potensi letusan yang akan terus terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

Baca Juga: Erupsi Gunung Agung Berubah Jadi Freatomagmatik, Apa Artinya?

Lantas, seberapa besar dampak semburan gas itu?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ahli geologi Simon Carn dari Universitas Cambridge lewat akun Twitter-nya @simoncarn mengungkap, jika yang dimaksud adalah dampak cuaca dan iklim, maka "Jumlah itu tidak cukup signifikan untuk mempengaruhi cuaca. Dan posisinya tidak di stratosfer."

Ia mengatakan, dari pantauan satelite milik NASANPP, pada tanggal 29 November, emisi SO2 masih di bawah 10.000 ton.

Penjelasan Simon tersebut mendapat tanggapan dari sejumlah orang dan menanyakan kondisi terkini dari Gunung Agung.

Simon menjelaskan secara detail dari hasil pengamatannya.

"Kita mengamati emisi SO2 tanggal 26,27,28, dan 29 November. Total SO2-nya tidak lebih dari 40.000 ton. Itu jumlah kasarnya, dan pada tanggal 30 November 2017 hanya terpantau sedikit, dan kemungkinan sekarang sudah menyebar,"katanya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.