Pendidikan Kesiapsiagaan Bencana Masuk ke Sekolah Indonesia

Kompas.com - 08/02/2019, 17:08 WIB
Dari kiri-kanan: pembawa acara, Lilik Kurniawan, Antonius B Wijanarto, Hendra Gunawan, dan Rahmat TriyonoShierine Wibawa/Kompas.com Dari kiri-kanan: pembawa acara, Lilik Kurniawan, Antonius B Wijanarto, Hendra Gunawan, dan Rahmat Triyono

KOMPAS.com – Salah satu upaya mitigasi bencana yang ditekankan oleh Lilik Kurniawan, Direktur Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), adalah pendidikan kebencanaan untuk mitigasi kultural.

Disampaikannya dalam acara “Peta Potensi Bencana dan Implementasi Mitigasi Bencana” yang diadakan di Jakarta, hari ini (8/2/2019), hasil pemetaan oleh BNPB dan Kementerian Pendidikan mengungkapkan bahwa sebanyak 70 persen sekolah di Indonesia berada di daerah rawan bencana.

Sekolah-sekolah ini paling banyak berada di daerah Jawa Barat, disusul oleh Sumatera Utara, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Di sekolah-sekolah inilah, anak-anak menghabiskan lebih dari enam jam kesehariannya. Oleh karena itu, pendidikan kebencanaan untuk mitigasi kultural, terutama yang mengarah pada jenis bencana di daerah tersebut, dirasa paling penting untuk dilakukan.

Baca juga: Gempa Palu Resmi Dinyatakan Fenomena Supershear Langka

Pendidikan ini bertujuan untuk mengubah budaya dan pola pikir masyarakat Indonesia dari sumber bencana menjadi laboratorium bencana. “Semua hal yang berhubungan dengan bencana harus kita pelajari untuk generasi berikutnya,” kata Lilik.

Bentuk pendidikannya mencakup formal, seperti memasukkan kurikulum dan muatan lokal mengenai mitigasi bencana ke semua universitas dan sekolah, dan informal, yaitu kegiatan ekstrakulikuler, keterampilan, pelatihan-pelatihan, dan kegiatan pramuka.

Pada intinya, pendidikan kesiapsiagaan bencana di sekolah ini akan memperkuat fasilitas dan struktur sekolah untuk menghadapi bencana. Lalu, guru, siswa dan staf lainnya juga akan diajarkan cara mengevakuasi diri.

Selain sekolah, pendidikan informal ini juga akan melibatkan tokoh-tokoh agama dan rumah ibadah. Dengan demikian, semua orang bisa mendapatkannya.

Baca juga: 5 Fakta Ilmiah tentang Gempa Palu yang Berhasil Terungkap

Perempuan juga rentan

Di samping anak-anak, kesiapsiagaan bencana pada tahun ini juga akan berfokus pada perempuan. Pasalnya, anak-anak dan perempuan adalah korban bencana terbesar di Indonesia.

Lilik berkata bahwa di samping sifat ibu yang selalu berupaya untuk melindungi anaknya, kurangan pengetahuan perempuan akan kesiapsiagaan bencana juga berpengaruh.

Pasalnya, tidak sedikit perempuan yang tinggal di rumah dan tidak terpapar pendidikan mitigasi dan risiko bencana. Lalu ketika sedang mengandung, perempuan menjadi kaum rentan yang butuh bantuan untuk menyelamatkan diri.

Untuk itu, BNPB mengupakan pendidikan kesiapsiagaan bencana bagi perempuan.

Salah satu caranya adalah dengan melibatkan Dharma Wanita Persatuan BPNB yang akan langsung turun ke lapangan dan mensosialisasikannya ke ibu-ibu sekitar. Nantinya, ibu-ibu ini diharapkan dapat mengetahui ke mana mereka harus mengevakuasi diri bila terjadi bencana.



Close Ads X