Ahli: Mutasi Genetik Manusia Modern Lebih Lambat Dibanding Moyang Kita

Kompas.com - 24/01/2019, 17:00 WIB
Taylor Mcgowan, balita 18 bulan yang alami mutasi genetik langka bernama sindrom rambut tak bisa disisir. Taylor Mcgowan, balita 18 bulan yang alami mutasi genetik langka bernama sindrom rambut tak bisa disisir.


KOMPAS.com - Dengan membandingkan perubahan genetik pada keturunan berbagai primata, ahli Denmark menemukan bahwa tingkat mutasi manusia melambat sejak menjadi Homo sapiens atau manusia modern.

Tim dari Universitas Aarhus, Denmark, tidak hanya memetakan gen tapi juga menghitung tingkat perubahannya.

"Dalam enam tahun terakhir, ada beberapa penelitian besar yang mempelajari materi genetik manusia. Jadi sebenarnya kita sudah memiliki banyak pengetahuan tentang jumlah mutasi baru yang terjadi pada manusia setiap tahun," kata ahli genetika populasi Søren Besenbacher, dilansir Science Alert, Rabu (23/1/2019).

"Tapi sayangnya sampai sekarang belum ada yang dapat memperkirakan dengan jelas dan rinci berapa tingkat mutasi pada kerabat primata terdekat kita".

Baca juga: Fosil Ini Bukti Keberadaan Moyang Manusia Paling Awal di Arab Saudi

Besenbacher dan timnya, bekerja sama dengan kebun binatang Kopenhagen akhirnya mengumpulkan informasi genetik dari induk dan keturunan simpanse, gorila, dan orangutan untuk dibandingkan dengan tingkat mutasi manusia.

Hasilnya yang kemudian diterbitkan di jurnal Nature Ecology & Evolution edisi 21 Januari 2019 mengungkap bahwa analisis urutan DNA primata menunjukkan adanya mutasi baru di setiap generasi.

Hal ini kemudian membuat tim untuk membandingkan angka di berbagai cabang pohon keluarga primata, termasuk manusia.

Data serupa pada manusia modern menunjukkan tingkat mutasi melambat.

Perlambatan itu dimulai sejak 400.000 tahun yang lalu, tidak lama sebelum nenek moyang kita memenuhi syarat untuk disebut manusia modern atau Homo sapiens.

Perubahan ini memiliki beberapa konsekuensi yang cukup signifikan ketika menggunakan gen manusia sebagai alat pembanding yang memetakan masa lalu evolusi kita.

Seperti detak metronom, kita dapat menggunakan denyut per menit pada DNA yang bermutasi untuk mencari tahu ketika dua spesies terkait dengan anggota terakhir dari pita yang sama.

Jika kita mengikuti "detak" manusia modern, moyang kita berada di pita yang sama dengan simpanse sekitar 10 juta tahun lalu. Hal ini mungkin cocok dengan studi lain yang mengungkap bahwa manusia dan primata "berpisah" sekitar 13 juta tahun lalu.

Namun, urutan gen lainnya menunjukkan perpisahan terjadi sekitar 4 juta tahun lalu. Kemudian bukti dari fosil menunjukkan bahwa perpisahan terjadi 8 juta tahun lalu.

Berbeda dari semua studi itu, pengamatan yang dilakukan Besenbacher dan rekannya menunjukkan pemisahan terjadi sekitar 6 sampai 7 tahun lalu.

Selain mengukur pemisahan yang lebih akurat, studi ini juga mendorong kita untuk memahami perbedaan nenek moyang manusia Neanderthal dan Homo sapiens.

Para ahli berspekulasi, penyebab melambatnya mutasi mungkin ada hubungannya dengan pubertas manusia yang terlambat, generasi yang lebih panjang, atau perubahan lingkungan dan gaya hidup.

Baca juga: Bukan Mutasi Genetik, Kerangka Unik yang Ditemukan di Cile Ternyata..

Mengetahui lebih banyak tentang hubungan antara perubahan genetik dan adaptasi dapat membantu kita memahami sejarah kita sendiri. Ini bisa menjelaskan masa depan seluruh cabang pohon keluarga manusia.

"Semua spesies primata terancam punah di alam liar. Dengan penanggalan yang lebih akurat tentang bagaimana populasi berubah sehubungan dengan perubahan iklim dari waktu ke waktu, kita akan mengetahui cara yang tepat untuk menghadapi perubahan iklim di masa depan," kata Christina Hvilson dari kebun binatang Kopenhagen.




Close Ads X