Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)
Himpunan Ahli Geofisika Indonesia

Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Mencermati Gas Hidrat Sebagai “Harta Karun” di Dasar Laut Indonesia

Kompas.com - 28/12/2018, 18:40 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KEBUTUHAN energi di Indonesia merupakan hal yang sangat vital bagi pemerintah dan masyarakat. Angka penggunaannya yang sangat tinggi, dengan jumlah produksi dalam negeri yang minim, membuat Indonesia harus selalu memutar otak agar mampu menyetarakan kondisi tersebut. 

Berbagai kebijakan disadurkan pemerintah dalam rangka menyeimbangkan pasar energi dalam maupun luar negeri sesuai dengan daya jual-beli Indonesia. Semenjak titik puncak pada tahun 1996 terlewati, angka produksi migas di Indonesia terus-menerus mengalami penurunan.

Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di Indonesia sangat lesu. Melalui kementerian ESDM, akhirnya mencanangkan sebuah peraturan tentang pemanfaatan sumber daya energi alternatif berupa unconventional energy sebagai salah satu poros pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.

Baca juga: BUMN Perancis Gandeng 4 Perusahaan Indonesia Kembangkan Energi Terbarukan

Gas hidrat adalah salah satu bentuk nyata unconventional energy yang dapat digunakan sebagai bentuk substitusi migas konvensional. Gas ini merupakan suatu bentuk akumulasi hidrokarbon berupa methane yang terformasi dalam kristal air akibat nilai fisis tekanan dan temperature tertentu.

Fakta menunjukan bahwa Indonesia mempunyai akumulasi gas hidrat yang tinggi pada beberapa titik di sekitar laut Sumatra, Laut Jawa, Sulawesi, dan sebagainya. Akumulasi energi alternatif ini, di Indonesia, belum satupun yang tersentuh oleh kegiatan eksploitasi.


Apa itu has hidrat?

Gas hidrat (CH4.5.75H2O), atau yang umum disebut sebagai methan ice, merupakan suatu senyawa clathrate solid yang mengandung methane degan jumlah besar dan terperangkap pada suatu kristal H2O dalam kondisi tekanan tinggi dan temperatur rendah.

Clathrate sendiri secara definisi adalah suatu kristalin air padat di mana molekul non-polar atau polar yang kecil, dengan hydrophobic moieties yang besar, terperangkap didalam suatu “kurungan” dari ikatan hidrogen.

Molekul tersebut tergambar dalam Gambar 1 di atas, di mana hidrokarbon berbentuk methane terjebak didalam rantai H2O. Secara volumetrik, jumlah senyawa H2O yang hadir melingkupi selalu lebih banyak daripada senyawa hidrat (methane).

Selain itu, senyawa hidrat di alam, dapat dibentuk oleh senyawa-senyawa hidrokarbon seperti methane, ethane, dan propane 

Baca juga: IESR Prediksi Pemanfaatan Energi Terbarukan Makin Suram Pada 2019

Dalam perkembangannya, teori-teori mengenai pembentukan molekul gas hidrat telah diciptakan oleh para peneliti hingga saat ini. Namun dari semua teori yang sudah terpublikasi, belum ada satu pun teori yang dapat membuktikan secara utuh dan nyata tentang pembentukan gas hidrat tersebut.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.