Kompas.com - 27/12/2018, 17:00 WIB
Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018). KOMPAS/RIZA FATHONIAktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018).

KOMPAS.com - Seorang ahli vulkanologi California Jess Phoenix baru saja memberikan pendapatnya terkait Gunung Anak Krakatau. Dalam laporan yang ditayangkan oleh BBC, Phoenix menyebut bahwa gunung ini sedang memasuki fase baru dan mematikan.

Pendapat itu diutarakan oleh Phoenix setelah melihat gambar-gambat erupsi dan menganalisis lini masa erupsi Gunung Anak Krakatau.

Menurut Phoenix, fase baru erupsi Anak Krakatau ini diikuti tragedi yang tidak biasa yaitu tsunami. Dari data yang ada, Phoenix menyebut kemungkinan runtuhnya bagian Anak Krakatau memicu longsor bawah laut.

Pergeseran batuan ini lah yang diyakini sebagai faktor penyebab tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) lalu. Dampak tsunami yang menewaskan ratusan orang ini yang dianggap oleh Phoenix sebagai fase mematikan.

Baca juga: Citra Radar BPPT Ungkap Bagian Selatan Anak Krakatau Longsor

Namun, artikel di BBC tersebut tidak dipercayai oleh Surono, ahli vulkanologi Indonesia.

"Tidak ada alasan ilmiah yang menyebutkan penyebab Anak Krakatau memasuki fase baru dan mematikan, judulnya saja dan saya tidak percaya," ungkap pria yang akrab disapa Mbah Rono itu, Kamis (27/12/2018).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketika ditanya mengenai status Gunung Anak Krakatau yang ditingkatkan menjadi level III (Siaga), Surono mengatakan itu tidak mencerminkan ancamannya heboh.

"Maksimum daerah bahaya 5 km saja, di luar itu aman," tegasnya.

Mengenai potensi longsornya kembali tebing Gunung Anak Krakatau, Surono mengatakan dirinya tidak tahu berapa persen potensinya.

"Tapi saya kira kecil-kecil saja (potensi longsoran)," kata Surono.

Menurut ahli kegunungapian ini, longsoran yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau tidak mempengaruhi karakter erupsi gunung tersebut.

"Letusannya ya seperti Anak Krakatau (tidak berubah), semburan material jika malam kelihatan menyala atau merah, kalau siang hitam, miskin awan panas," jelas pria yang pernah menjabat sebagai kepala PVMBG itu.

Melihat pertumbuhan Anak Krakatau saat ini, Surono mengatakan bahwa dirinya tidak bisa berandai-andai mengenai potensi bencana yang bisa terjadi.

"Kita lihat saja berjalanan aktivitas letusannya, saya tidak bisa berandai-andai," pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lama Jadi Misteri, Ternyata Ini Alasan Tikus Air Bisa Menyelam

Lama Jadi Misteri, Ternyata Ini Alasan Tikus Air Bisa Menyelam

Oh Begitu
Buaya Raksasa dari Era Prasejarah Ditemukan di Australia, Ini Wujudnya

Buaya Raksasa dari Era Prasejarah Ditemukan di Australia, Ini Wujudnya

Oh Begitu
Misteri di Inti Bumi Miring dan Berkurangnya Panas Planet di Bawah Indonesia

Misteri di Inti Bumi Miring dan Berkurangnya Panas Planet di Bawah Indonesia

Fenomena
[POPULER SAINS] Bagaimana Atlet Bisa Kena Serangan Jantung? | Alasan Varian Delta Picu Lonjakan Kasus Covid-19

[POPULER SAINS] Bagaimana Atlet Bisa Kena Serangan Jantung? | Alasan Varian Delta Picu Lonjakan Kasus Covid-19

Oh Begitu
Gletser Darah di Pegunungan Alpen Bisa Jadi Penanda Perubahan Iklim

Gletser Darah di Pegunungan Alpen Bisa Jadi Penanda Perubahan Iklim

Oh Begitu
Isolasi Mandiri di Rumah, Ini yang Harus Dilakukan Pasien COVID-19

Isolasi Mandiri di Rumah, Ini yang Harus Dilakukan Pasien COVID-19

Kita
Cara Mencegah Serangan Jantung Saat Berolahraga, Ini Saran Ahli

Cara Mencegah Serangan Jantung Saat Berolahraga, Ini Saran Ahli

Oh Begitu
Wisma Atlet Hampir Penuh, Siapa Saja yang Boleh Isoman?

Wisma Atlet Hampir Penuh, Siapa Saja yang Boleh Isoman?

Kita
Akhirnya Diakui, Bumi Sekarang Punya Samudra Kelima

Akhirnya Diakui, Bumi Sekarang Punya Samudra Kelima

Fenomena
Peneliti Temukan Telur Ayam dengan Kondisi Utuh Berusia 1000 Tahun

Peneliti Temukan Telur Ayam dengan Kondisi Utuh Berusia 1000 Tahun

Oh Begitu
Alasan Hiu Karang Berselancar di Siang Hari Akhirnya Terkuak, Studi Jelaskan

Alasan Hiu Karang Berselancar di Siang Hari Akhirnya Terkuak, Studi Jelaskan

Fenomena
Ahli Jelaskan Bagaimana Varian Delta Virus Corona Sebabkan Lonjakan Kasus Covid-19

Ahli Jelaskan Bagaimana Varian Delta Virus Corona Sebabkan Lonjakan Kasus Covid-19

Oh Begitu
Sperma Tikus Bertahan 6 Tahun di ISS, Akankah Jadi Jawaban Cara Bereproduksi di Luar Angkasa?

Sperma Tikus Bertahan 6 Tahun di ISS, Akankah Jadi Jawaban Cara Bereproduksi di Luar Angkasa?

Oh Begitu
Ahli Jelaskan Bagaimana Atlet Bisa Terkena Serangan Jantung

Ahli Jelaskan Bagaimana Atlet Bisa Terkena Serangan Jantung

Oh Begitu
Varian Delta yang Menyebar di Kudus Disebut Super Strain, Ini Penjelasan Ahli

Varian Delta yang Menyebar di Kudus Disebut Super Strain, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X