Prihadi Murdiyat
Dosen Politeknik Negeri Samarinda serta Peneliti WSN dan pemanfaatannya

Dr. Ir. Prihadi Murdiyat, MT adalah dosen Jurusan Teknik Elektro dan juga dosen Jurusan Teknologi Informasi di Politeknik Negeri Samarinda. Prihadi juga peneliti Wireless Sensor Network (WSN) dan pemanfaatannya. Lulusan Curtin University, Perth, Western Australia, PhD on Electrical and Computer Engineering; Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Magister Teknik, Teknik Elektro; dan Universitas Brawijaya Malang, Sarjana Teknik, Teknik Elektro.

Memprediksi Tanah Longsor dengan Wireless Sensor Network

Kompas.com - 07/12/2018, 16:56 WIB
Ilustrasi longsor. KOMPAS.com/Yatimul AinunIlustrasi longsor.

DATANGNYA musim hujan selalu membawa kegembiraan bagi petani dan masyarakat yang tinggal di daerah-daerah sulit air. Tetapi, datangnya musim hujan juga membawa kekhawatiran. Hujan yang turun dengan deras dapat menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor

Berbeda dengan bencana banjir yang biasanya dapat diperkirakan dengan mengamati ketinggian sungai dari waktu ke waktu, bencana tanah longsor seringkali terjadi tiba-tiba. Umumnya masyarakat tidak siap mengindari bahaya longsor, sehingga beberapa bencana tanah longsor di Indonesia selalu memakan korban.

Dengan jumlah bencana yang menurut BNPB bahkan telah mencapai 438 kejadian di awal tahun 2018, usaha-usaha untuk menghindarkan masyarakat dari bahaya bencana longsor mestinya harus dilakukan. Bila perlu, terjadinya tanah longsor harus dicegah.

Pencegahan terjadinya bencana tanah longsor atau pencegahan jatuhnya korban sebenarnya sangat dimungkinkan. Alasannya, peta-peta daerah rawan longsor telah dibuat oleh BNPB dan BPBD.

Baca juga: Kisah Yaya Selamatkan Istri dan Anaknya yang Terperangkap Longsor

Apalagi, berbagai penelitian yang mempelajari kemungkinan terjadinya longsor, serta pengamatan tempat kejadian setelah terjadinya bencana, yang dilakukan oleh berbagai pihak termasuk perguruan tinggi, dapat menjelaskan secara detail tentang penyebab terjadinya bencana.

Penjelasan dari berbagai penelitian dan pengamatan umumnya menyimpulkan bahwa longsor terjadi karena kondisi topologi, geologi, cuaca, dan aktifitas masyarakat di daerah potensi atau terdampak bencana.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Maka, terjadinya bencana atau jatuhnya korban dapat dicegah dengan melakukan usaha-usaha seperti penyuluhan pada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan terjadinya tanah longsor.

Sementara itu, pengamatan terhadap kondisi topologi, geologi, dan cuaca juga perlu dilakukan secara terus-menerus dan dari waktu ke waktu untuk mengukur resiko terjadinya tanah longsor.

Menempatkan seorang atau beberapa orang operator pada daerah rawan bencana untuk mengamati kondisi lingkungan secara terus-menerus tentulah tidak praktis.

Pekerjaan tersebut akan cukup melelahkan dan membutuhkan biaya operasional yang sangat besar, apalagi jika mengingat bahwa jumlah daerah rawan bencana longsor yang ada di Indonesia sangatlah banyak.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peringatan Dini BMKG: Gelombang Tinggi Ekstrem dan Air Pasang Maksimum di Pesisir

Peringatan Dini BMKG: Gelombang Tinggi Ekstrem dan Air Pasang Maksimum di Pesisir

Fenomena
Banjir Rob di Manado, Ini Daftar Wilayah Berpotensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Banjir Rob di Manado, Ini Daftar Wilayah Berpotensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Banjir Rob di Manado, BMKG Sebut Penyebabnya Air Pasang, Ombak dan Gelombang Tinggi

Banjir Rob di Manado, BMKG Sebut Penyebabnya Air Pasang, Ombak dan Gelombang Tinggi

Fenomena
7 Cara Tumbuhan Mempertahankan Diri

7 Cara Tumbuhan Mempertahankan Diri

Oh Begitu
WHO: Dampak Pandemi, Kematian Akibat Malaria Naik 69.000 pada 2020

WHO: Dampak Pandemi, Kematian Akibat Malaria Naik 69.000 pada 2020

Oh Begitu
5 Manfaat Bermain Video Game yang Terbukti Secara Ilmiah

5 Manfaat Bermain Video Game yang Terbukti Secara Ilmiah

Oh Begitu
Peneliti di China Ciptakan Plastik Ramah Lingkungan dari Sperma Ikan Salmon

Peneliti di China Ciptakan Plastik Ramah Lingkungan dari Sperma Ikan Salmon

Oh Begitu
5 Hewan yang Bisa Melihat Tanpa Mata

5 Hewan yang Bisa Melihat Tanpa Mata

Oh Begitu
Viagra Berpotensi Menjadi Obat untuk Penyakit Alzheimer, Kok Bisa?

Viagra Berpotensi Menjadi Obat untuk Penyakit Alzheimer, Kok Bisa?

Oh Begitu
Ilmuwan Sebut Vaksin Covid-19 Beda Merek Terbukti Tingkatkan Imunitas

Ilmuwan Sebut Vaksin Covid-19 Beda Merek Terbukti Tingkatkan Imunitas

Oh Begitu
Studi: Plankton Bantu Terbentuknya Pegunungan di Bumi, Kok Bisa?

Studi: Plankton Bantu Terbentuknya Pegunungan di Bumi, Kok Bisa?

Fenomena
Epidemiolog Setuju PPKM Level 3 Serentak Dibatalkan, Apa Alasannya?

Epidemiolog Setuju PPKM Level 3 Serentak Dibatalkan, Apa Alasannya?

Kita
[POPULER SAINS] Pandemi Selanjutnya Disebut Lebih Parah dari Covid-19 | Daftar Wilayah Berpotensi Banjir

[POPULER SAINS] Pandemi Selanjutnya Disebut Lebih Parah dari Covid-19 | Daftar Wilayah Berpotensi Banjir

Oh Begitu
Pukul 21.00, Puncak Hujan Meteor Puppid-Velid Hiasi Langit Indonesia

Pukul 21.00, Puncak Hujan Meteor Puppid-Velid Hiasi Langit Indonesia

Oh Begitu
Laporan Awal, Varian Omicron 'Lebih Ringan' Dibanding Varian Delta

Laporan Awal, Varian Omicron "Lebih Ringan" Dibanding Varian Delta

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.