80 Persen Plastik Australia Dipangkas dalam 3 Bulan, Bisakah Kita Tiru? - Kompas.com

80 Persen Plastik Australia Dipangkas dalam 3 Bulan, Bisakah Kita Tiru?

Kompas.com - 04/12/2018, 21:00 WIB
Ilustrasi sampah plastik dan seekor penyu yang matinevodka Ilustrasi sampah plastik dan seekor penyu yang mati


KOMPAS.com - Masalah kecanduan sampah plastik sedang dihadapi dunia. Semua sampah itu bermuara di tempat pembuangan sampah akhir atau lautan, dan butuh berabad-abad sampai untuk membusuk.

Namun, tindakan sekecil apapun yang kita lakukan terutama didukung kebijakan negara akan penggunaan plastik dapat memberi perubahan besar. Setidaknya hal itu telah dibuktikan oleh Australia.

Selama tiga bulan terakhir, dua jaringan supermarket terbesar di negeri kanguru tidak lagi memberi kantong plastik kepada pelanggannya.

Hal ini ternyata berhasil mengurangi konsumsi kantong plastik di negara tersebut sampai 80 persen.

Baca juga: Paus Mati di Wakatobi, Bukti Nyata Indonesia Darurat Sampah Plastik

Kebijakan melarang penggunaan kantong plastik untuk setiap transaksi awalnya mengalami kendala dan tidak berjalan mulus.

Kedua supermarket, yakni Coles dan Woolworths, mendapat kecaman publik ketika mereka mengumumkan tidak lagi menggunakan kantong plastik. Hal ini dirasa menyulitkan pelanggan karena harus membawa tas belanja sendiri dari rumah.

Namun menurut Asosiasi Ritel Nasional (NRA) Australia, selama tiga bulan terakhir, perubahan radikal itu menurunkan sekitar 80 persen atau 1,5 miliar kantong plastik.

Ini artinya langkah kecil seperti yang dilakukan Coles dan Woolworths juga memberi dampak besar untuk lingkungan.

"Saya pikir kita semua harus lebih sadar tentang dampak apa yang kita konsumsi dan gunakan, sebab kitalah yang bertanggung jawab," kata juru bicara NRA David Stout kepada The Guardian.

Dilansir ABC, Senin (3/12/2018), Stout mengatakan kebijakan itu merupakan langkah berani dari supermarket besar di Australia dan membuka jalan bagi bisnis yang lebih kecil.

"Supermarket besar mengetahui bahwa mereka menjual produk yang dibutuhkan, sehingga mereka tahu pembeli akan kembali lagi ke mereka," kata Stout.

"Jelas bahwa hal terbaik bagi bisnis lebih kecil adalah mereka tidak lagi menyediakan kantong plastik atau meminta pembeli membayar (plastik). Mereka sekarang bisa menjalankan strategi tersebut tanpa khawatir pembeli tidak akan menyukainya."

Baca juga: Benarkah Bioplastik Ampuh Perangi Pencemaran Plastik?

Stout berharap supermarket besar ini bisa terus melakukan kebijakan ini secara berkelanjutan dan melarang sepenuhnya penggunaan kantong plastik.

"Kita masih melihat banyaknya penggunaan kantong plastik pada makanan. Saya kira bagus bila kita melakukan pelarangannya untuk semua aspek," tukas Stout.

Hal baik dari negeri tetangga ini mungkin juga dapat diikuti Indonesia, atau setidaknya mulai dari diri kita sendiri.



Close Ads X