Benarkah Bioplastik Ampuh Perangi Pencemaran Plastik?

Kompas.com - 21/11/2018, 20:33 WIB
Ragam produk bioplastik Avani Eco. Selain kantung plastik dari bahan singkong, perusahaan start-up itu juga menghasilkan papercup, sedotan, dan styrofoam yang bisa terurai. Yunanto Wiji UtomoRagam produk bioplastik Avani Eco. Selain kantung plastik dari bahan singkong, perusahaan start-up itu juga menghasilkan papercup, sedotan, dan styrofoam yang bisa terurai.


KOMPAS.com - Salah satu masalah global yang sedang kita hadapi adalah pencemaran plastik yang mulai menguasai lautan dan menyebabkan ratusan spesies laut mengonsumsinya. Berbagai alternatif ditawarkan, salah satunya bioplastik.

Hingga saat ini lebih dari 8 triliun kilogram plastik diproduksi, dan sekitar 8 miliar kilogram di antaranya berakhir di lautan. Tentu saja plastik-plastik itu merusak lingkungan. Celakanya, sekitar 180 spesies hewan laut terbukti mengonsumsi plastik.

Hewan laut berbagai jenis dan ukuran tercemar plastik, termasuk plankton, anjing laut, ikan laut, penyu, dan paus sperma yang Senin kemarin (19/11/2018) dikabarkan mati terdampar di Wakatobi.

Ini adalah masalah global yang kita hadapi bersama dan semakin banyak ilmuwan tergerak meneliti dampak penggunaan plastik. Beruntung, beberapa kalangan seperti konsumen dan produsen juga mulai sadar akan masalah ini. Mereka ikut memberikan berbagai alternatif, salah satunya bioplastik.

Baca juga: Teguran buat Kita, Paus yang Mati di Wakatobi Tercemar 5 Kg Plastik

Sepintas, bioplastik terdengar menjanjikan dan disebut produk ramah lingkungan. Namun, apakah benar bioplastik dapat dijadikan obat mujarab untuk menyembuhkan lingkungan?

Jawabannya sebenarnya rumit. Para ilmuwan, produsen, dan pakar lingkungan yang memperingatkan manfaat bioplastik mangatakan "tergantung".

Apakah bioplastik sebenarnya?

Plastik pada umumnya terbuat dari bahan sintetis dan diolah dengan proses polimerasi atau penyusunan rantai senyawa menggunakan bahan-bahan seperti minyak bumi.

Bioplastik mengacu pada plastik yang terbuat dari tumbuhan atau bahan biologis lain, bukan minyak bumi. Bioplastik juga sering disebut plastik berbasis bio.

Bahan pembuat bioplastik salah satunya adalah Poli asam laktat (polylactic acid atau PLA) yang ada di tanaman jagung dan tebu, atau polihidroksialkanoat (PHA) yang direkayasa dari mikroorganisme.

Plastik PLA yang mengandung glukosa umumnya digunakan sebagai pembungkus makanan, botol plastik, hingga tekstil. PLA merupakan sumber bioplastik termurah dan yang paling sering kita temukan di pasaran.

Sementara PHA memiliki ciri lebih ulet, kurang elastis, dan dapat terurai. Bioplastik jenis ini banyak digunakan dalam industri dunia medis.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X